Media Kampung – Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) mendorong percepatan pembangunan jaringan gas untuk sentra industri tahu di Kabupaten Sidoarjo. Langkah ini dinilai penting untuk menekan biaya produksi sekaligus mengurangi penggunaan bahan bakar yang berpotensi mencemari lingkungan.

Dorongan itu disampaikan BHS saat mengunjungi sentra industri tahu di kawasan Probo, Sidoarjo, pada Jumat, 12 Juni 2026. Dalam kunjungan tersebut, ia berdialog langsung dengan para perajin mengenai berbagai kendala usaha, mulai dari harga kedelai impor hingga kebutuhan energi untuk proses produksi.

Menurut BHS, persoalan energi menjadi perhatian serius karena sebagian perajin masih mengandalkan kayu bakar, bahkan ada yang menggunakan limbah plastik sebagai bahan bakar alternatif. “Penggunaan plastik sebagai bahan bakar tentu berisiko terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Emisi yang dihasilkan dapat menimbulkan dampak buruk, termasuk potensi pencemaran mikroplastik,” kata BHS.

Karena itu, ia mendorong para pelaku usaha beralih ke energi yang lebih bersih dan efisien melalui pemanfaatan jaringan gas bumi. Menurutnya, penggunaan gas tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan efisiensi biaya produksi dalam jangka panjang.

BHS mengungkapkan, dirinya telah berkomunikasi langsung dengan Perusahaan Gas Negara (PGN) wilayah Jawa Timur-Bali untuk membahas peluang perluasan jaringan gas ke kawasan sentra industri tahu di Sidoarjo. “Saya sudah menghubungi PGN agar jaringan pipa gas dapat menjangkau kawasan industri tahu ini. Bahkan kalau memungkinkan, biaya pemasangan bisa dibuat sangat ringan atau gratis melalui program tanggungjawab sosial perusahaan (CSR),” ujarnya.

Selain membahas kebutuhan energi, dia juga menyoroti tingginya harga kedelai impor yang masih menjadi keluhan utama para perajin. Ia menilai harga kedelai yang diterima pelaku usaha seharusnya dapat lebih rendah apabila distribusi dan rantai pasok diawasi secara ketat. Berdasarkan perhitungannya, dengan kurs rupiah sekitar Rp18.000 per dolar AS, harga kedelai impor di pasar internasional berada pada kisaran Rp7.200 per kilogram. Setelah ditambah biaya pengiriman dan margin distribusi yang wajar, harga di tingkat perajin diperkirakan tidak lebih dari Rp9.500 per kilogram.

“Saat ini perajin masih membeli sekitar Rp10.500 per kilogram. Kami berharap harga bisa turun menjadi sekitar Rp9.500 sehingga biaya produksi lebih ringan dan harga tahu maupun tempe tetap terjangkau bagi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Sidoarjo, Heni Setyaningtyas, menyambut baik dukungan yang diberikan BHS. Menurutnya, upaya menghadirkan jaringan gas ke sentra industri tahu sebenarnya telah diupayakan sejak beberapa waktu lalu, namun masih menghadapi sejumlah kendala teknis.

“Kami berterima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan. Beberapa persoalan yang selama ini belum terselesaikan, khususnya terkait jaringan gas, kini mulai difasilitasi dan dikomunikasikan kembali dengan PGN,” ujar Heni.

Ia menilai kehadiran jaringan gas dapat menjadi solusi jangka panjang bagi para perajin tahu di Sidoarjo. Selain menekan biaya operasional, penggunaan energi yang lebih bersih juga berpotensi mengurangi polusi di lingkungan sekitar kawasan industri. “Kalau jaringan gas bisa masuk, para perajin tidak lagi bergantung pada bahan bakar yang berisiko terhadap lingkungan. Produksi akan lebih efisien dan kualitas lingkungan di sekitar sentra industri juga dapat terjaga,” katanya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.