Media Kampung – Komunitas Kalijawi di Yogyakarta membuktikan bahwa kebiasaan menabung kecil bisa berdampak besar. Melalui gerakan menabung Rp2.000 per hari per anggota, komunitas ini berhasil merenovasi 165 rumah tidak layak huni di bantaran Sungai Gajahwong dan Winongo sejak 2012.

Komunitas yang lahir pada 2012 ini digagas oleh ibu-ibu yang tinggal di bantaran sungai tersebut. Nama Kalijawi merupakan singkatan dari Kali (sungai) Gajahwong dan Winongo. Ketua Kalijawi, Ainun Murwani, menceritakan awal mula berdirinya komunitas ini berawal dari ajakan sekelompok arsitek untuk memetakan kondisi empat kampung. Para ibu tertarik dan akhirnya pemetaan meluas hingga 14 kampung.

“Dari hasil pemetaan, masalah yang paling urgen adalah status lahan, rumah tidak layak huni, dan kondisi lingkungan yang buruk, seperti sampah dan sanitasi,” kata Ainun saat ditemui di balai bambu Kelurahan Pakuncen, Kemantren Wirobrajan, Jumat (26/6).

Mekanisme Tabungan Renovasi

Program renovasi rumah berawal dari hibah sekitar Rp300 juta yang dirasa tidak cukup untuk menyelesaikan masalah rumah tidak layak huni di 14 kampung. Maka, komunitas sepakat membuat program tabungan harian Rp2.000 yang dikelola dalam kelompok-kelompok kecil. Terbentuk 15 kelompok dengan total 165 anggota, masing-masing kelompok berisi 15 orang.

Setiap dua bulan, tabungan per kelompok dicairkan. Rinciannya, uang tabungan anggota sebesar Rp1,2 juta ditambah dana hibah Rp1,8 juta sehingga total Rp3 juta per rumah. Sistemnya mirip arisan: anggota yang mendapat giliran akan direnovasi rumahnya. Jika biaya membengkak, kekurangannya ditutup secara swadaya.

Hingga kini, program renovasi telah menjangkau 165 rumah. Namun, secara keseluruhan sudah sekitar 400 rumah yang berhasil diperbaiki, baik melalui subsidi Kalijawi maupun pinjaman mandiri dari koperasi komunitas.

Fokus Renovasi: MCK, Sirkulasi Udara, dan Cahaya

Mayoritas renovasi menyasar fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), serta perbaikan sirkulasi udara dan pencahayaan. Ainun mencontohkan, ada warga yang setiap hari membeli obat pusing karena sirkulasi udara dan cahaya di rumahnya buruk. Setelah direnovasi, keluhan itu hilang.

Salah satu anggota, Sudirah (52), merasakan manfaat langsung. Rumahnya yang semula tanpa jendela dan atap rendah kini menjadi lebih tinggi dan memiliki ventilasi. “Dulu sumpek, sirkulasi udara kurang. Saya kena Covid-19 dan dikarantina di rumah, tapi rumah tidak nyaman. Berkat Kalijawi, rumah saya direnovasi,” tuturnya.

Pemberdayaan Perempuan dan Manajemen Keuangan

Selain renovasi, Kalijawi juga memberikan pelatihan manajemen keuangan keluarga. Ainun menekankan bahwa memperbaiki rumah adalah langkah awal untuk memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhan. “Ketika rumah nyaman, mereka bisa berpikir lebih tenang untuk mencari nafkah dan akses lain seperti pendidikan,” jelasnya.

Pada awal berdiri, komunitas ini sempat mendapat penolakan. Banyak warga ragu dan menganggap tabungan ini investasi bodong. Namun, setelah satu-dua rumah berhasil direnovasi, minat warga pun meningkat.

Ke depan, Kalijawi berencana terus melanjutkan program renovasi dan menjalin kerja sama dengan pemerintah. Ainun mengusulkan agar bantuan pemerintah dikelola melalui koperasi, sehingga penerima manfaat tetap terpantau dan rumah tidak kembali kumuh dalam lima tahun.

Komunitas Kalijawi kini memiliki 278 kepala keluarga sebagai anggota, tidak hanya di Yogyakarta tetapi juga di bantaran Sungai Gajahwong yang masuk wilayah Kabupaten Sleman.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.