Media Kampung, Petani sawi di kawasan Way Kandis, Kota Bandar Lampung, masih menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan usaha taninya. Selain serangan hama, perubahan cuaca menjadi kendala yang memengaruhi pertumbuhan tanaman dan hasil panen. Salah seorang petani sawi, Hartuti (40), menyebut kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan terbesar karena sulit diprediksi dan berdampak langsung terhadap pertumbuhan tanaman. Berbeda dengan hama yang masih dapat dikendalikan melalui perawatan dan penggunaan pestisida, cuaca ekstrem sering kali menyebabkan kualitas maupun hasil panen menurun.
Hartuti juga mengungkapkan bahwa harga jual sawi sempat mengalami penurunan pada pekan lalu. “Ya karena MBG libur jadi permintaan sawi ikut turun, harga juga berdampak. Tapi kalau kebutuhan MBG meningkat, permintaan sawi juga bertambah sampai kami kewalahan memenuhi pesanan,” kata dia, Minggu 5 Juli 2026.
Saat ini Hartuti menjual sawi dengan harga sekitar Rp2.000 per ikat. Harga tersebut dinilai lebih baik dibandingkan tahun lalu yang sempat turun hingga Rp1.000 per ikat. Selain dipasarkan ke Pasar Way Kandis, Pasar Jatimulyo, dan Pasar Tempel Sukarame, hasil panennya juga dipasok untuk memenuhi kebutuhan sejumlah pedagang mie ayam di Bandarlampung.
Sebagai petani, Hartuti berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap petani sayuran, terutama dengan membantu menjaga harga obat-obatan pertanian dan sarana produksi agar tetap terjangkau. Menurutnya, biaya produksi yang semakin tinggi menjadi salah satu beban yang harus dihadapi petani.





















Tinggalkan Balasan