Media Kampung – Ancaman El Nino 2026 semakin nyata di Sumatra dengan ribuan titik api yang terdeteksi, menandakan potensi kebakaran hutan dan lahan gambut yang mengkhawatirkan.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan sebanyak 23.546 titik panas teridentifikasi pada periode Januari hingga Maret 2026 di seluruh Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) Indonesia.
Provinsi Riau menjadi wilayah paling terdampak dengan 8.930 titik api, diikuti Aceh dengan 1.975 titik, Jambi 359 titik, dan Sumatra Selatan 164 titik.
Putra Saptian, juru kampanye Pantau Gambut, menegaskan bahwa konsentrasi titik panas di wilayah konsesi HGU dan PBPH mencerminkan kegagalan tata kelola lahan gambut.
“Praktik pengeringan gambut melalui pembangunan kanal dan ekspansi perkebunan monokultur menjadi faktor dominan kebakaran berulang,” ujar Putra dalam wawancara dengan DW.
Aditya Prakoso, Manager Program Walhi Jambi, menambahkan bahwa akar masalah karhutla terletak pada manajemen lahan industri, bukan sekadar pemadaman api.
BMKG memperkirakan El Nino dengan intensitas moderat hingga kuat akan berkembang pada Mei hingga Juli 2026, bersamaan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Kombinasi kedua fenomena iklim diprediksi memperparah kondisi kering, meningkatkan suhu, dan menurunkan curah hujan di seluruh kepulauan Indonesia.
Lahan gambut Indonesia diperkirakan menyimpan sekitar 57 gigaton karbon, setara dengan 20 kali cadangan karbon pada tanah mineral, dan berkontribusi sekitar 30% karbon dunia.
Jika gambut kering terbakar, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun akan dilepaskan ke atmosfer, mempercepat laju pemanasan global.
Pembangunan kanal untuk mengeringkan lahan pertanian monokultur mengurangi kelembapan alami gambut, menjadikannya mudah terbakar bahkan pada suhu yang relatif moderat.
Pengawasan satelit menunjukkan peningkatan signifikan pada deteksi titik panas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, menandakan bahwa kebijakan pengendalian belum efektif.
Pemerintah daerah dan pusat diimbau untuk meninjau kembali perizinan lahan, memperketat regulasi kanal, serta meningkatkan rehabilitasi lahan gambut dengan restorasi hidrasi alami.
Sampai kini, upaya pemadaman masih bersifat reaktif; langkah preventif seperti penanaman kembali vegetasi gambut dan edukasi masyarakat diperlukan untuk mengurangi risiko kebakaran di masa depan.
Kondisi terbaru menunjukkan bahwa meskipun upaya pemadaman terus dilakukan, titik api baru masih muncul secara berkala, menandakan perlunya strategi jangka panjang yang lebih terintegrasi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan