Media Kampung – Malang – Budayawan Ki Joko Setiono mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyaring informasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, kemampuan AI yang semakin realistis dalam menghasilkan visualisasi membuat publik rentan terhadap berita palsu atau hoaks. Ia menekankan pentingnya verifikasi sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.
Dalam Obrolan Pesona Budaya RRI Malang, Sabtu (27/6/2026), Ki Joko memberikan tips sederhana: periksa siapa yang membawa berita, apa isinya, dan apakah berita tersebut bisa dibuktikan. Jika belum jelas, masyarakat diminta untuk menahan diri dan tidak langsung menyebarkannya. Langkah ini dinilai efektif untuk mengurangi penyebaran hoaks dan kesalahpahaman.
Selain menyoroti dampak negatif, Ki Joko juga melihat peluang besar AI dalam pelestarian budaya. Ia mencontohkan penggunaan animasi dan visual tiga dimensi untuk memperkenalkan wayang kepada generasi muda. Namun, ia mengingatkan agar penggunaan teknologi tidak menghilangkan pakem dan nilai filosofis yang terkandung dalam budaya asli. “Kalau animasi atau AI digunakan untuk mengenalkan budaya, silakan. Tetapi tetap harus ada acuan pada wayang asli agar makna dan filosofi yang diwariskan tidak bergeser,” ujarnya.
Ki Joko menyadari bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dihindari. Seiring waktu, masyarakat akan menentukan sendiri bentuk budaya yang tetap bertahan dan yang akan ditinggalkan. Ia pun mengajak masyarakat untuk tetap lurus kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan menggunakan akal sehat dalam menerima setiap informasi. “Kalau ada berita yang belum bisa dipastikan kebenarannya, tahan dulu. Nanti akan ada penjelasan yang benar,” pungkasnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan