Media Kampung – Tradisi To’oto’ Madura, sebuah sistem arisan dan bank sosial yang telah mengakar sejak zaman pra-kolonial, terus bertahan di tengah gempuran era digital. Hingga tahun 2026, tradisi ini masih eksis di berbagai wilayah Madura seperti Pamekasan, Banyuates, Robatal, hingga desa-desa di Bangkalan. Meskipun layanan keuangan digital berkembang pesat, To’oto’ tidak tergerus zaman karena esensinya bukan sekadar perputaran uang, melainkan media strategis untuk menyatukan elemen masyarakat dan mempererat tali silaturahmi antar-keluarga.
Dalam program Kita Indonesia, Kamis (18/6/2026), Budayawan Sampang, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, menjelaskan bahwa relevansi nilai spiritual dan sosial tradisi ini tetap terjaga. To’oto’ menjadi jembatan yang menyatukan peran ulama sebagai pemimpin doa selamatan dengan kaum Belater dalam kehidupan bermasyarakat. Secara historis, tradisi yang berakar dari istilah bisik-bisik ini awalnya disimbolkan lewat kuliner khas biji kacang panjang (otok) berbumbu pedas manis asam bernama seronding, serta sajian merah putih (tetel dan wajik).
To’oto’ lahir sejak zaman pra-pemberontakan sebagai solusi cerdas berbentuk bank sosial atau arisan untuk menjaga ketahanan ekonomi masyarakat saat menghadapi masa sulit kolonial. Struktur pelaksanaannya kokoh, melibatkan peran Kelebun (kepala desa), ulama, komunitas informal Belater, hingga sistem undangan unik tanpa nama (taburen). Seluruh prosesi tari-tarian dan penyerahan sumbangan (buwoh) dikemas meriah lewat iringan kesenian musik Sandur Madura.
Namun, warisan budaya yang adiluhung ini kerap dihadapkan pada stereotip negatif dari luar. Pakaian adat pesaan, ikat kepala udeng, maupun tradisinya sering disalahartikan dan diidentikkan dengan citra kriminalitas. Bustomi menyampaikan keprihatinan mendalam dan berharap agar pemerintah beserta tokoh budaya dapat bersinergi memberikan wadah legalitas serta panggung resmi bagi To’oto’.
“Melalui edukasi yang tepat, generasi muda diharapkan dapat memahami bahwa To’oto’ bukanlah tradisi biasa, melainkan sebuah sistem sosial-ekonomi kompleks yang efektif merawat solidaritas sekaligus tangguh merespons perubahan zaman,” tutupnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan