Media Kampung – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa ketertarikan generasi muda terhadap keris terus naik, menekankan nilai benda budaya material di tengah arus digital.
Ia menegaskan bahwa keris memiliki daya tarik unik karena dapat dimiliki, dirasakan, dan dikoleksi secara langsung, berbeda dengan objek digital yang tak dapat disentuh.
“Karena di era digital, sesuatu yang material itu menjadi sangat penting. Kalau kerisnya itu keris digital tidak bisa dipegang, tidak bisa dirasa,” ujarnya kepada wartawan.
Pernyataan tersebut disampaikan pada acara Peringatan Hari Keris Nasional 2026 yang digelar di Museum Pusaka TMII, Jakarta Timur, pada Sabtu malam, 23 Mei 2026.
Acara itu sekaligus menjadi panggung bagi pemerintah untuk menegaskan komitmen mengembangkan literasi dan narasi positif tentang keris.
Fadli menambah, pemerintah akan terus memperluas edukasi agar keris semakin dikenal oleh masyarakat luas, khususnya kalangan muda.
Empu wanita asal Sumenep, Ika Arita, juga turut berperan dengan cara memperkenalkan keris melalui kegiatan edukasi dan literasi budaya.
Ika Arita menggelar workshop di Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, melibatkan pelaku budaya lokal seperti Pelar Agung Desa Aeng Tongtong.
Kegiatan tersebut diadakan untuk memperingati 17 tahun penetapan keris Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO.
UNESCO mengakui keris pada 25 November 2005, menjadikannya simbol warisan budaya yang harus dilestarikan.
Acara di Saronggi menampilkan diskusi tentang peran keris di era modern serta tour Desa Keris yang menampilkan proses pembuatan secara langsung.
Tour tersebut memberi kesempatan bagi remaja melihat langsung teknik pembuatan, bahan baku, serta makna simbolik setiap ukiran.
Para peserta, kebanyakan pelajar SMA, melaporkan rasa kagum yang meningkat setelah menyentuh dan mempelajari keris secara fisik.
Pengalaman tersebut dianggap mampu menumbuhkan rasa kebanggaan akan identitas budaya Indonesia di kalangan generasi muda.
Fadli menilai bahwa keberadaan keris yang dapat dimiliki dan disimpan menjadi faktor utama menarik minat pemuda.
Ia menambahkan, keris tidak hanya sekadar artefak sejarah, melainkan ekspresi budaya adiluhung nenek moyang.
Program literasi yang digencarkan pemerintah mencakup pembuatan modul digital, namun tetap menekankan pentingnya interaksi langsung dengan benda fisik.
Hal ini sejalan dengan upaya mengintegrasikan nilai tradisional ke dalam kurikulum pendidikan nonformal.
Selain itu, Kemenbud berkolaborasi dengan lembaga museum untuk menyelenggarakan pameran keris nasional 2026 yang dirancang sebagai ruang edukasi bagi remaja.
Pameran menampilkan koleksi keris dari berbagai daerah, lengkap dengan cerita asal-usul dan teknik pengerjaan masing‑masing.
Pengunjung muda dapat mencoba memegang replika keris yang aman, memperkuat sensasi material yang dijelaskan Fadli.
Data awal dari survei Kemenbud menunjukkan peningkatan minat sebesar 12% dibandingkan tahun sebelumnya di kalangan usia 15‑24 tahun.
Survei tersebut melibatkan lebih dari 3.000 responden yang dipilih secara acak di lima provinsi utama.
Hasil menunjukkan bahwa 68% responden menyatakan ingin mempelajari lebih dalam tentang keris setelah menghadiri acara edukasi.
Para pelaku kerajinan tradisional di Sumenep melaporkan peningkatan permintaan bahan baku keris dari kalangan mahasiswa seni.
Hal ini menandakan potensi ekonomi kreatif yang dapat tumbuh seiring dengan minat yang meningkat.
Fadli menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa keris adalah simbol persatuan dan identitas nasional yang harus dijaga.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk media, sekolah, dan komunitas, untuk bersama‑sama melestarikan warisan ini.
Kegiatan lanjutan dijadwalkan akan meliputi lomba desain keris modern yang melibatkan mahasiswa desain produk.
Lomba tersebut bertujuan menggabungkan estetika kontemporer dengan nilai historis keris.
Dengan demikian, diharapkan keris tetap relevan dan menarik bagi generasi yang tumbuh di era digital.
Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau perkembangan minat ini dan menyesuaikan kebijakan budaya sesuai kebutuhan.
Upaya bersama ini diharapkan menjadikan keris tidak hanya sebagai artefak museum, melainkan bagian hidup sehari‑hari generasi muda Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan