Media Kampung – Desainer ternama Didiet Maulana kembali mencuri perhatian publik melalui rompi istimewa yang dikenakan El Rumi saat prosesi siraman pada 29 April 2026 di Yogyakarta.

Karya tersebut menggabungkan estetika Regency Inggris dengan motif tradisional Jawa, menegaskan identitas budaya yang modern.

Rompi berwarna krem terang menampilkan bordir tumbuhan yang melambangkan doa akan kehidupan baru yang subur.

Warna biru langit pada lapisan dalam menyeimbangkan nuansa klasik dengan sentuhan lokal yang segar.

Didiet Maulana menjelaskan bahwa setiap detail dirancang untuk menandakan transformasi spiritual dan kedewasaan calon mempelai.

“Rompi ini melambangkan kesiapan mental seorang pria dalam menyongsong babak baru,” ujar Didiet dalam wawancara singkat.

Proses pembuatan melibatkan pengrajin batik lokal yang menenun kain jumputan dengan teknik tradisional.

Hasilnya, rompi menjadi simbol persatuan antara kerajinan tangan Indonesia dan inspirasi era Regency Inggris.

Penggunaan rompi sebelum dan sesudah siraman menandai fase pembersihan spiritual melalui air.

Setelah ritual, rompi dipakaikan kembali sebagai penanda identitas yang telah dibersihkan.

Desain tanpa lengan memungkinkan gerakan bebas saat calon mempelai menjalani prosesi siraman.

Potongan yang pas menonjolkan siluet gentleman yang menghormati adat sekaligus tampil bergaya.

Kolaborasi antara Didiet Maulana dan fashion stylist Ivan Teguh Santoso menghasilkan konsep “East meets West” yang kuat.

Ivan menambahkan bahwa perpaduan elemen sejarah Inggris dan budaya Nusantara memberi napas baru pada tradisi.

Rompi tersebut juga dilengkapi dengan motif inisial kecil ‘ES’ di bagian belakang sebagai sentuhan pribadi.

Inisial tersebut merujuk pada nama El dan pasangan, menegaskan nilai emosional desain.

Kain jumputan yang dipilih mengusung warna alami, menambah kesan organik pada busana.

Penggunaan bordir halus pada bagian dada meniru motif bunga yang populer dalam era Bridgerton.

Penggabungan elemen Bridgerton muncul sebagai respons tren global yang mengangkat gaya Regency.

Para ahli mode menilai rompi Didiet Maulana sebagai contoh sukses adaptasi budaya dalam konteks pernikahan modern.

Menurut pakar budaya Yogyakarta, karya ini memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat inovasi busana adat.

Rompi tersebut diproduksi dalam jumlah terbatas melalui label Svarna by IKAT Indonesia.

Label tersebut berfokus pada pelestarian teknik tenun tradisional sambil mengeksplorasi desain kontemporer.

Penjualan rompi diperkirakan akan meningkat setelah publikasi foto-foto prosesi siraman.

Media sosial menandai tren ini dengan tagar #DidietMaulana dan #EastMeetsWest.

Pengamat pasar menyebut bahwa kolaborasi desainer lokal dengan referensi internasional dapat membuka peluang ekspor.

Sejumlah toko butik di Jakarta dan Surabaya telah mengajukan permintaan khusus untuk reproduksi desain serupa.

El Rumi menyatakan rasa terhormatnya atas pilihan busana tersebut dalam pernyataan singkat.

“Rompi ini membuat saya merasa lebih siap menghadapi peran baru,” ujar El dengan senyum.

Kehadiran rompi menambah nilai estetika sekaligus memberikan makna mendalam bagi pasangan.

Acara siraman yang dilaksanakan di kompleks keraton Yogyakarta menarik ribuan penonton secara langsung dan daring.

Reaksi publik menunjukkan apresiasi tinggi terhadap inovasi mode adat yang tetap menghormati nilai tradisional.

Keberhasilan rompi Didiet Maulana membuka peluang bagi desainer lain untuk mengeksplorasi tema serupa di masa depan.

Sejauh ini, tidak ada laporan kontroversi terkait penggunaan elemen Barat dalam upacara adat.

Para tokoh budaya menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara modernitas dan warisan budaya.

Rompi Didiet Maulana kini menjadi referensi utama dalam diskusi mode adat Indonesia tahun 2026.

Dengan demikian, desain tersebut menegaskan posisi Didiet Maulana sebagai pionir inovasi busana tradisional di era globalisasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.