Media Kampung – Laba bersih emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp 392,59 triliun per 30 Oktober 2026. Dari sejumlah sektor, energi menjadi penyumbang pertumbuhan laba bersih tertinggi pada semester I 2026 dengan kenaikan 34,84 persen.

Data tersebut dipaparkan Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Agus Firmansyah, yang menilai capaian itu menunjukkan fundamental emiten di pasar modal Indonesia masih cukup kuat.

Agus menyampaikan, laba bersih agregat itu berasal dari 963 emiten yang tercatat di BEI. Ia juga menyebut laba bersih agregat emiten yang tergabung dalam indeks LQ45 mencapai Rp 246,06 triliun.

Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan seluruh emiten tercatat tumbuh 15,99 persen secara tahunan pada periode Juni 2025 hingga Juni 2026. Dalam periode yang sama, laba bersih emiten juga meningkat 16,25 persen.

Pada kelompok saham unggulan LQ45, pendapatan tumbuh 16,92 persen dan laba bersih naik 18,49 persen secara tahunan.

Agus menjelaskan, mayoritas emiten masih mampu membukukan keuntungan. Pada semester I 2026, sebanyak 74 persen perusahaan tercatat mencatat laba, sedangkan 26 persen lainnya membukukan rugi.

Ia mengatakan pertumbuhan laba bersih masih ditopang terutama oleh sektor energi, disusul barang baku, barang konsumen primer, transportasi dan logistik, serta infrastruktur. Di sisi lain, sejumlah sektor masih tertekan, terutama barang konsumen non-primer yang turun 3,11 persen, perindustrian turun 8,96 persen, dan teknologi yang mengalami penurunan paling dalam sebesar 47 persen.

Agus juga mencatat aliran dana asing di pasar saham Indonesia per 30 Oktober 2026 masih menunjukkan net sell sebesar Rp 97,92 triliun.