Media Kampung – Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut pemerintah tengah mengkaji langkah untuk lebih mengoptimalkan gas bumi bagi kebutuhan dalam negeri, termasuk untuk mendukung pengembangan industri petrokimia.

Bahlil mengatakan porsi konsumsi gas bumi di dalam negeri saat ini mencapai 70 persen dari total produksi, sementara 30 persen sisanya diekspor. Ke depan, menurut dia, komposisi itu akan dievaluasi ulang agar pasokan untuk industri hilirisasi, terutama petrokimia, lebih terjamin.

"Nah ke depan saya akan mencoba untuk melakukan excercise ulang agar mengoptimalkan untuk konsumsi dalam negeri, termasuk dalamnya bahan baku karena ke depan kita akan mendorongkan industri hilirisasi di petrochemical, bahan bakunya adalah gas," kata Bahlil saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (23/10).

Bahlil juga membuka kemungkinan larangan ekspor gas bumi berlaku untuk negara mana pun. Ia menegaskan kebijakan itu akan tetap mempertimbangkan hubungan baik antarnegara, namun pemerintah juga akan mengutamakan kepentingan nasional.

Sebelumnya, Bahlil menyampaikan opsi untuk menghentikan atau tidak memperpanjang ekspor gas ke negara tetangga jika kebutuhan dalam negeri belum terpenuhi. Ia juga mengatakan akan mengevaluasi kontrak gas dengan negara-negara yang dinilai tidak kooperatif dan tidak saling menghargai.

Dalam kesempatan terpisah, Bahlil memproyeksikan produksi gas nasional pada 2028-2029 dapat mencapai 3.000 MMSCFD, dengan produksi kondensat sekitar 130.000 barel per hari.