Media Kampung – Surabaya menjadi pusat perhatian industri pangan nasional saat EastFood Indonesia 2026 digelar di Grand City Convention Exhibition Surabaya pada 18-21 Juni 2026. Pameran bertajuk Indonesia International Food Expo (IIFEX) ini menghadirkan ekosistem industri pangan dari hulu ke hilir, mempertemukan pelaku usaha, investor, chef, UMKM, hingga pencinta kuliner.

Mengapa Jawa Timur Menjadi Tuan Rumah?

Jawa Timur memiliki alasan kuat menjadi tuan rumah. Berdasarkan data Dinas Perdagangan Jawa Timur, struktur ekonomi provinsi ini ditopang sektor industri pengolahan sebesar 31,45 persen. Sektor makanan dan minuman menjadi motor utama dengan nilai PDRB mencapai Rp451 triliun dan rata-rata pertumbuhan 11,6 persen per tahun sejak 2021. Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perdagangan Jawa Timur, Yudi Arianto, menyatakan pameran ini konsisten digelar di Surabaya dan memberikan dampak luar biasa bagi Jawa Timur.

Optimisme Industri Makanan dan Minuman

Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, mengungkapkan industri makanan dan minuman tumbuh 6,38 persen pada 2025 dan meningkat menjadi 7,04 persen pada triwulan pertama 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,61 persen. Meskipun menghadapi tantangan geopolitik, perubahan iklim, dan kenaikan biaya bahan baku, sektor ini tetap menjadi andalan karena dibutuhkan masyarakat kapan pun. Adhi menambahkan, industri ini menyumbang sekitar 7 persen terhadap PDB nasional dan 42 persen terhadap PDB nonmigas. Ekspor produk olahan juga melampaui 13 miliar dolar AS, dan jika termasuk komoditas sawit mencapai sekitar 40 miliar dolar AS.

Platform Bisnis dan Inovasi

CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menegaskan EastFood Indonesia bukan sekadar pameran produk, melainkan platform strategis untuk bertukar inovasi, melihat tren pasar global, dan menemukan teknologi pengolahan pangan terbaru. Pameran ini menghadirkan lebih dari 180 peserta dalam dan luar negeri, serta 30 UMKM binaan yang mendapat kesempatan mempromosikan produk ke pasar lebih luas.

Di area pameran, pengunjung dapat menemukan bahan baku berkualitas, teknologi pengolahan dan pengemasan modern. Business Development IPF, Ariana Susanti, mencatat bahwa sekitar 50 persen bahan baku pengemasan masih impor, membuka peluang inovasi nasional. Teknologi digital dan kecerdasan buatan mulai memainkan peran besar dalam industri kemasan.

Program Pendukung dan Kompetisi

EastFood juga menyelenggarakan seminar tentang sertifikasi halal, regulasi BPOM, digitalisasi usaha, hingga strategi ekspor. Program Business Matching dan Hosted Buyer mempertemukan peserta dengan distributor, investor, dan calon mitra dari berbagai negara. Selain itu, Bakat Boga Challenge 2026 menjadi ajang kompetisi kuliner dengan kategori seperti Lapis Surabaya, Bolu Gulung Keju, Traditional Jajanan Pasar, dan lainnya. Ketua Komite Bakat Boga, Chef Tius Faisal Martadinata, mengatakan antusiasme peserta tinggi, terutama kategori chicken main course Indonesian style dan soto ayam.

Pameran juga menghadirkan Cooking Demo dan Baking Demo bersama chef profesional dan merek ternama seperti IndoBake, Kewpie, dan Richs, memberikan gambaran langsung tren industri pangan dan kuliner terkini.

EastFood Indonesia 2026 membuktikan bahwa industri pangan Indonesia tidak hanya bertahan menghadapi tantangan global, tetapi juga terus bertumbuh dan bersiap menjadi pemain kuat di pasar dunia. Dari Surabaya, pesan optimisme itu terdengar jelas.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.