Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, ditutup melemah sebesar 52,18 poin atau 0,82 persen ke posisi 6.318,50. Penurunan ini dipimpin oleh tekanan dari saham-saham sektor basic materials yang mengalami penurunan signifikan.
Sepanjang perdagangan, IHSG menunjukkan pergerakan yang fluktuatif. Pasar bereaksi terhadap pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR yang membahas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal untuk RAPBN tahun anggaran 2027. Dalam pidatonya, Presiden mengumumkan kebijakan penetapan perusahaan BUMN sebagai pengekspor tunggal komoditas sumber daya alam dan instruksi untuk menurunkan suku bunga kredit bagi masyarakat kecil melalui Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyatakan bahwa sentimen dari pidato Presiden tersebut memengaruhi pergerakan pasar. Selain itu, keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Rapat Dewan Gubernur Mei 2026 juga turut memberi dampak. Kenaikan suku bunga ini mendorong penguatan nilai tukar Rupiah sebesar 0,29 persen ke level Rp17.654 per dolar AS.
IHSG yang dibuka dengan pelemahan, terus bertahan di zona negatif hingga penutupan sesi pertama dan kedua perdagangan. Sembilan dari sebelas sektor saham menunjukkan tren penurunan. Sektor barang baku mengalami penurunan terdalam sebesar 4,60 persen, diikuti sektor transportasi dan logistik yang turun 4,34 persen, serta sektor energi yang melemah 2,63 persen. Di sisi lain, sektor keuangan dan infrastruktur justru mengalami peningkatan meskipun tipis.
Beberapa saham yang mencatat kenaikan signifikan hari ini antara lain LCKM, SURE, APIC, INTD, dan MORA. Namun, saham-saham seperti RELI, TPIA, WBSA, ASPR, dan SMMT mengalami tekanan jual yang cukup berat. Volume perdagangan mencapai 41,12 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp22,35 triliun, yang tersebar dalam 2.476.561 kali transaksi.
Dari pasar regional Asia, indeks saham utama juga mengalami pelemahan. Indeks Nikkei turun 1,34 persen, indeks Shanghai turun 0,18 persen, indeks Hang Seng melemah 0,57 persen, dan indeks Straits Times turun 0,52 persen. Kondisi ini menunjukkan tekanan global turut memengaruhi kinerja pasar saham domestik.
Pengamat pasar modal, Elandry Pratama, menambahkan bahwa pasar saat ini masih berhati-hati dan memilih menunggu perkembangan lebih lanjut, terutama terkait kebijakan moneter Bank Indonesia dan stabilitas nilai tukar Rupiah. Ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat serta tensi geopolitik menjadi faktor eksternal yang membayangi sentimen investor.
Dengan kondisi ini, IHSG diprediksi akan bergerak volatil dengan kecenderungan melemah secara terbatas dalam jangka pendek. Pasar masih mencerna kombinasi sentimen dari dalam negeri dan global, sehingga investor disarankan untuk tetap cermat dalam mengambil keputusan investasi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan