Media Kampung – Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus menegaskan bahwa stok energi di Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT tetap aman dan stabil meski konflik geopolitik antara Amerika‑Israel dan Iran terus memanas.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyatakan bahwa kondisi stok belum mengalami perubahan signifikan sejak sebelum ketegangan internasional muncul.
Ia menambahkan, “Stok energi untuk wilayah Indonesia khususnya di Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT kondisinya sama seperti sebelum terjadi konflik geopolitik,” ujar Ahad pada Minggu (3/5).
Pernyataan tersebut didukung oleh data internal yang menunjukkan persediaan BBM di semua terminal regional tetap pada level yang sama sejak Desember 2023 hingga awal Ramadan.
Perusahaan pun terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk menerima informasi terbaru terkait situasi di Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia.
Ahad mengakui bahwa penutupan sementara Selat Hormuz dapat menambah waktu pengiriman, namun ia menegaskan bahwa frekuensi pengapalan akan ditingkatkan untuk menutupi keterlambatan.
“Selama Selat Hormuz ditutup, waktu pengiriman akan bertambah dan disiasati dengan frekuensi pengapalan yang lebih sering,” jelasnya, menambahkan bahwa jadwal pengiriman dapat naik menjadi tiga hingga empat kali dalam seminggu.
Kenaikan frekuensi tersebut otomatis meningkatkan biaya operasional, termasuk tambahan bahan bakar dan biaya kapal tanker.
Ahad menuturkan, “Mau tidak mau, Pertamina harus mengeluarkan investasi lebih untuk pembelian BBM maupun minyak mentah dibanding biasanya,” sebagai konsekuensi langsung dari dinamika geopolitik.
Meskipun biaya meningkat, arus kapal tanker ke terminal Jatimbalinus tetap berjalan normal tanpa hambatan signifikan.
Selama periode Ramadan, Pertamina mencatat lonjakan permintaan LPG di wilayah tersebut, namun perusahaan berhasil mengendalikan distribusi tanpa mengganggu pasokan utama.
Langkah antisipatif yang meliputi peningkatan cadangan strategis dan penyesuaian rute pengiriman menjadi kunci menjaga kestabilan pasokan energi di daerah.
Pertamina juga memperkuat kerja sama dengan pelabuhan lokal untuk mempercepat proses bongkar muat dan mengurangi waktu tunggu kapal.
Data terbaru menunjukkan bahwa tingkat ketersediaan bahan bakar di SPBU regional berada di atas 95 persen, menandakan keberhasilan strategi mitigasi perusahaan.
Ahad menekankan pentingnya monitoring terus‑menerus terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama potensi eskalasi yang dapat mempengaruhi harga minyak dunia.
Ia menambahkan, “Kami tetap siap menyesuaikan operasional jika ada perubahan situasi, demi memastikan energi tetap terjangkau bagi konsumen.”
Dengan prosedur kesiapsiagaan yang terintegrasi, Pertamina berharap dapat menjaga stabilitas pasar energi domestik meski tekanan eksternal semakin berat.
Sejauh ini, tidak ada laporan gangguan pasokan di wilayah Jatimbalinus, dan perusahaan berkomitmen melanjutkan pemantauan serta penyesuaian kebijakan secara dinamis.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan