Media Kampung – Suasana haru menyelimuti Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu sore saat keluarga relawan Global Sumud Flotilla menyambut kepulangan para pejuang kemanusiaan dari Gaza. Deretan bendera Palestina dan poster dukungan memenuhi area kedatangan, menjadi saksi bisu betapa panjang dan beratnya kerinduan keluarga yang menanti dari jauh.
Setelah perjalanan panjang dan penuh tantangan, satu per satu relawan muncul di pintu kedatangan internasional dengan wajah kelelahan. Pelukan hangat keluarga pun pecah, disertai air mata yang tak terbendung, menandai momen penuh makna saat istri, anak, dan kerabat akhirnya menyentuh kembali orang-orang tercinta mereka.
Salah satu kisah datang dari Khoziyah, istri Herman Budianto. Ia beberapa kali menyeka air mata sembari menunggu suaminya tiba. Khoziyah mengungkapkan bahwa sebelum berangkat, Herman sempat menyampaikan kemungkinan terburuk tidak kembali dari misi kemanusiaan tersebut. Kekhawatiran itu terus menghantuinya selama hampir sebulan, apalagi ketika pemberitaan internasional mengabarkan penahanan para relawan.
“Beliau bilang ada kemungkinan untuk tidak kembali,” kata Khoziyah dengan suara lirih. Dengan hanya komunikasi singkat melalui video call, Khoziyah berusaha menjaga semangat Herman agar tetap kuat menjalani tugas beratnya di Jalur Gaza. Bagi wanita ini, melihat Herman kembali menginjakkan kaki di Tanah Air adalah kebahagiaan yang sulit diungkapkan.
Perasaan cemas juga dirasakan Arie, istri relawan Ronggo Wirasanu. Ia mengikuti setiap perkembangan suaminya dari Indonesia, terutama saat kapal relawan memasuki zona yang disebut sebagai zona kuning oleh para aktivis. Meski ketakutan ada, Arie memahami bahwa keputusan suaminya untuk membantu rakyat Palestina adalah panggilan kemanusiaan yang telah diyakini sejak awal.
Keluarga lain yang menunggu juga terlihat tegang sambil menggenggam telepon genggam dan atribut solidaritas Palestina. Mereka berdiri bersama relawan yang turut serta dalam misi kemanusiaan, menunggu dengan penuh harap agar para pejuang kemanusiaan bisa segera kembali dalam keadaan selamat.
Kepulangan relawan seperti As’ad Aras Muhammad disambut dengan rasa syukur oleh keluarganya. Kakaknya, Rafika Aras, mengungkapkan bagaimana keluarga terus mengikuti perkembangan penahanan sejak kapal bantuan dicegat militer Israel. Meski tekanan mental selama masa penahanan berat, semangat juang As’ad tetap tinggi dan ia berencana melanjutkan perjuangan kemanusiaan setelah pulang.
Suasana semakin emosional ketika sembilan relawan berdiri bersama keluarga untuk pertama kali setelah penahanan panjang. Mereka saling memeluk erat, mencoba menghapus kelelahan dan luka yang dialami selama perjalanan dan masa penahanan di kawasan konflik.
Di sisi lain, teman satu tim Hendro Prasetyo, Noor dan Fidela, menunggu dengan penuh kecemasan. Hendro dikenal aktif mengabarkan kondisi selama pelayaran misi kemanusiaan ini. Namun, komunikasi tiba-tiba terputus saat kapal dicegat, memicu kekhawatiran mendalam di antara para relawan dan keluarga.
Selama masa penahanan, para relawan mengalami berbagai kekerasan fisik, mulai dari luka tembak hingga pukulan dan ancaman. Herman Budianto dan Ronggo Wirasanu mengungkapkan kondisi berat tersebut, bahkan ada yang melakukan mogok makan sebagai bentuk protes. Meskipun begitu, mereka tetap teguh mendukung perjuangan rakyat Palestina yang telah lama menderita.
Kepulangan para relawan bukan hanya akhir dari perjalanan panjang, tetapi juga menjadi jawaban doa yang dipanjatkan keluarga selama penuh kecemasan. Tangis haru dan pelukan hangat di Terminal 3 Soekarno-Hatta menjadi gambaran kuat tentang arti sebuah kepulangan, yang menyatukan keluarga setelah melewati masa penuh ketidakpastian dan risiko tinggi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan