Media Kampung – Mama Sinta, seorang warga Papua, kini beralih dukungan kepada proyek food estate di Papua Selatan setelah merasakan dampak negatif dari film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”. Film tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat adat, termasuk suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu, berjuang mempertahankan tanah leluhur mereka dari proyek besar yang mengancam eksistensi mereka.

Film berdurasi 95 menit ini disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale, dan tayang di platform YouTube pada 22 Mei 2026. Dengan pendekatan investigatif, film ini mengungkapkan dampak deforestasi dan konflik agraria yang terjadi akibat klaim ketahanan pangan dan transisi energi.

Mama Sinta menyatakan bahwa ia merasa dikelabui oleh janji-janji pembangunan yang tidak sesuai kenyataan. “Saya awalnya percaya bahwa proyek ini akan membawa kesejahteraan. Namun, setelah menyaksikan film ini, saya menyadari bahwa banyak yang hilang dari kehidupan kami, termasuk tanah yang menjadi sumber kehidupan kami,” ungkapnya.

Dokumenter ini tidak hanya membahas satu wilayah, tetapi juga menggambarkan persoalan yang lebih luas terkait perubahan cepat yang mengancam kehidupan masyarakat adat. Banyak warga yang terpaksa menghadapi ancaman kehilangan tanah mereka, yang mengakibatkan hilangnya identitas budaya dan sumber daya alam mereka.

Melalui testimoni warga setempat, film ini menunjukkan bagaimana proyek strategis nasional seperti perkebunan sawit dan kawasan industri pangan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Deforestasi yang terjadi menyebabkan kerugian besar bagi mereka yang bergantung pada ekosistem alami.

Film ini juga menjadi pengingat akan pentingnya memperhatikan hak-hak masyarakat adat dalam setiap kebijakan pembangunan. Mama Sinta kini berharap proyek food estate bisa menjadi solusi yang lebih baik untuk meningkatkan kesejahteraan tanpa mengorbankan tanah dan budaya mereka.

Sejak rilisnya film tersebut, banyak masyarakat yang mulai mengubah pandangan mereka terhadap proyek-proyek pembangunan di Papua Selatan. Kini, dukungan terhadap food estate dianggap sebagai langkah yang lebih positif, asalkan dilakukan dengan melibatkan masyarakat lokal dan menghormati hak-hak mereka.

Dengan kesadaran yang semakin meningkat, Mama Sinta dan komunitasnya berharap agar suara mereka didengar dan dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan tanah dan sumber daya di Papua Selatan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.