Media Kampung – Dua jurnalis dari harian Republika, Bambang Noroyono dan Thody Badai, dilaporkan hilang kontak saat mengikuti misi kemanusiaan Sumud Flotilla yang menuju Jalur Gaza pada 18 Mei 2026 di perairan internasional dekat Siprus. Kejadian ini langsung memicu respons cepat dari pihak Republika dan pemerintah Indonesia untuk melacak keberadaan mereka.
Stevy Maradona, Wakil Pemimpin Redaksi Republika, menjelaskan bahwa pengiriman kedua jurnalis ke misi tersebut didasari oleh pertimbangan matang, termasuk kompetensi dan kesiapan fisik yang telah dilalui melalui latihan intensif. Ia menegaskan bahwa keputusan ini diambil sebagai upaya untuk menembus blokade bantuan kemanusiaan yang masih berlangsung di Gaza, khususnya melalui jalur laut yang masih memungkinkan akses, berbeda dengan jalur darat dan udara yang semakin terbatas.
“Kami kembali mengirimkan tim karena blokade bantuan di Gaza masih berlangsung dan jalur laut menjadi alternatif yang masih terbuka,” ujar Stevy dalam wawancara bersama PRO3 RRI pada 19 Mei 2026. Ia juga menyatakan harapan agar pemerintah Indonesia, khususnya Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Luar Negeri Sugiono, segera memberikan pernyataan resmi terkait kondisi para jurnalis dan sembilan warga negara Indonesia yang berada di wilayah konflik tersebut.
Stevy menekankan bahwa perlindungan terhadap seluruh warga negara Indonesia di Gaza, termasuk para jurnalis, harus menjadi prioritas utama pemerintah. Pihak Republika bersama komunitas pers nasional mendesak agar pemerintah mengambil langkah diplomasi yang tegas dan memperjuangkan pembebasan para jurnalis yang ditahan militer Israel secara cepat.
Di sisi lain, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid turut menyuarakan kecaman atas pencegatan misi Sumud Flotilla oleh militer Israel. Ia menegaskan bahwa keselamatan insan pers yang tengah menjalankan tugas peliputan, khususnya dalam situasi konflik seperti ini, harus selalu diperhatikan dan dijamin oleh semua pihak.
“Kami mengikuti dengan prihatin kabar mengenai jurnalis Indonesia yang menjalankan tugas kemanusiaan menuju Gaza. Keselamatan warga negara, termasuk insan pers, harus menjadi perhatian kita bersama,” ungkap Meutya Hafid. Dukungan moral dan doa dari masyarakat Indonesia mengalir untuk keselamatan tim relawan kemanusiaan yang berupaya membuka akses bantuan melalui jalur laut di wilayah Gaza.
Hingga saat ini, upaya pencarian dan koordinasi diplomatik terus dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri untuk memastikan keamanan dan keselamatan para jurnalis dan warga negara Indonesia yang terlibat dalam misi kemanusiaan tersebut. Pemerintah dan komunitas pers berharap situasi ini dapat segera menemukan solusi dan blokade kemanusiaan di Gaza dapat berakhir.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan