Media Kampung – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, merespons serangan kelompok Houthi di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi. Ia mengaku prihatin karena Houthi menyerang fasilitas sipil.
“Saya sungguh sangat prihatin terhadap serangan Houthi yang menyasar fasilitas sipil. Ini tidak saja merusak fasilitas publik, menimbulkan korban jiwa orang-orang yang tidak ada kaitannya dengan konflik. Dan lebih dari itu sangat mengganggu umat Islam yang melaksanakan ibadah umrah,” ujar dia dalam keterangan tertulis, Rabu (14/10).
“Hak-hak sipil dalam bentuk apapun tidak boleh dirusak apalagi dihancurkan. Apalagi mengganggu begitu banyak jemaah yang akan dan sedang melaksanakan ibadah umrah. Mereka harus dilindungi oleh siapa pun. Dan hukum internasional jelas sekali menegaskan soal ini,” tambahnya.
Kepulan besar asap hitam membubung dari area penyimpanan bahan bakar di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, pada tanggal serangan. Sudarnoto menilai serangan tersebut melanggar hukum internasional. Ia meminta serangan terhadap fasilitas sipil dihentikan.
“Menurut saya, serangan ini melanggar hukum internasional. Karena itu, saya meminta betul untuk hentikan serangan terhadap fasilitas dan masyarakat sipil. Lebih dari itu, kedua belah pihak juga harus hentikan perang, jangan saling memulai,” ujar Sudarnoto.
Ia juga mendorong pemerintah Indonesia untuk mewujudkan perdamaian antara kedua kelompok yang bertikai ini. “Saya berharap pemerintah Indonesia tidak kehilangan momentum untuk memainkan peran strategis mencari jalan resolusi konflik dan wujudkan perdamaian,” tandasnya.
Kelompok Houthi melakukan serangkaian serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, dan Bandara Internasional King Fahd, Dammam. Serangan terparah terjadi di Bandara Riyadh pada akhir pekan lalu, yang memicu kebakaran hebat dan menghentikan operasional bandara. Laporan awal menyebutkan 14 orang meninggal dunia dan 309 orang mengalami luka-luka.
Hingga Minggu (11/10) malam waktu Arab Saudi, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh menyatakan belum ada WNI yang teridentifikasi menjadi korban. Untuk memastikan keselamatan WNI, KBRI Riyadh melakukan penelusuran melalui sejumlah jalur.













