Media Kampung – Cerpen ‘Gadis Pendoa’ karya Tara Febriani Khaerunnisa mengangkat persoalan yang lebih dalam dari sekadar kisah seorang anak perempuan yang dipaksa berdoa demi kepentingan orang lain. Karya ini mengajak pembaca merenungkan bagaimana praktik keagamaan bisa kehilangan esensinya ketika berhadapan dengan kemiskinan dan fanatisme.

Tema Mayor: Benturan Kemanusiaan dan Dogma

Dalam analisis menggunakan kerangka Burhan Nurgiyantoro, tema mayor cerpen ini adalah benturan antara tindakan nyata kemanusiaan dan fanatisme religius yang dogmatis. Konflik ini terlihat jelas dalam dialog antara Mila dan ibunya. Ketika Mila ingin merawat warga desa seberang, ibunya menolak dengan keyakinan bahwa hanya Tuhan yang bisa menyembuhkan. Kata ‘konyol’ yang digunakan sang ibu untuk merujuk pada kegiatan sosial Mila menjadi cerminan sistem kepercayaan yang menganggap aksi nyata sebagai hal sia-sia dibandingkan ritual doa.

Doa sebagai Komoditas

Cerpen ini juga mengkritik bagaimana agama bisa berubah menjadi komoditas. Para jemaah membayar Mila untuk mendoakan keberhasilan panen dari ladang yang sudah bukan milik mereka. Mereka tidak melawan ketidakadilan, melainkan mendoakan agar ketidakadilan berjalan lebih lancar. Hal ini menunjukkan bahwa institusi keagamaan telah dibajak oleh ketimpangan ekonomi, berfungsi sebagai mekanisme penjinak massa.

Keputusasaan yang Menjelma Kutukan

Salah satu momen paling kuat dalam cerpen adalah ketika seorang jemaah meminta Mila mendoakan kegagalan panen bagi orang kaya yang memonopoli air. Doa berubah menjadi kutukan, menjadi jeritan keputusasaan. Mila, yang tidak lagi percaya pada doa, tetap melakukannya dan tertawa—tawa sinis yang menandakan kehilangan harapan. Cerpen ini bukan hanya tentang satu keluarga, melainkan cermin kondisi sosial di mana kemiskinan membuat orang menyerahkan nasib pada ritual, dan anak perempuan dijadikan alat produksi spiritual.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.