Media Kampung – Tradisi suporter Jepang yang membersihkan stadion setelah pertandingan Piala Dunia kembali menjadi sorotan, kali ini bukan karena pujian melainkan kritik yang datang dari dalam negeri sendiri. Aksi suporter Timnas Jepang memungut sampah di tribun stadion usai laga berlangsung telah lama dikenal dan diapresiasi dunia sebagai simbol kedisiplinan dan tanggung jawab sosial. Namun, di tengah pujian tersebut, muncul perdebatan tajam terkait ketimpangan peran gender dalam rumah tangga di Jepang.

Beberapa foto dan video yang viral di media sosial menampilkan perbandingan antara sikap suporter pria Jepang yang rajin membersihkan kebersihan publik dan kondisi mereka di rumah. Meme sindiran yang beredar luas memperlihatkan seorang pria mengenakan jersey Timnas Jepang sedang bersantai di sofa sementara istrinya mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci piring. Tulisan “Tolong lakukan juga di rumah” pada meme tersebut menggambarkan kritik keras terhadap rendahnya kontribusi pria Jepang dalam pekerjaan domestik.

Data yang mendukung kritik ini menunjukkan bahwa pria Jepang menghabiskan waktu sangat sedikit untuk pekerjaan rumah tangga dibandingkan perempuan. Survei tahun 2021 mencatat bahwa perempuan Jepang dengan anak di bawah enam tahun menghabiskan lebih dari tujuh jam setiap hari untuk pekerjaan rumah, sedangkan pria hanya kurang dari dua jam. Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) juga menegaskan bahwa perempuan Jepang mengerjakan pekerjaan tidak berbayar seperti membersihkan rumah dan mengurus anak selama lebih dari tiga jam sehari, jauh di atas pria yang hanya sekitar 47 menit.

Kritik dan meme yang viral tersebut memicu diskusi luas di kalangan warganet Jepang dan internasional. Banyak perempuan menyatakan bahwa meskipun pria terlihat peduli terhadap kebersihan di tempat umum, ketidakseimbangan peran di rumah tangga tetap menjadi masalah serius. Beberapa pengguna media sosial menulis, “Semua orang ingin menyelamatkan dunia, tetapi tidak ada yang mau membantu ibu mencuci piring,” menggambarkan frustrasi atas beban yang masih mayoritas ditanggung perempuan.

Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa aksi suporter membersihkan stadion adalah hal positif dan tidak seharusnya langsung disamakan dengan perilaku di rumah. Namun, mayoritas sepakat bahwa kritik ini membuka mata tentang pentingnya peran aktif pria dalam pekerjaan rumah tangga guna menciptakan kesetaraan dan harmoni keluarga.

Budaya kebersihan memang sangat melekat di Jepang, termasuk dalam konteks sosial dan publik. Namun, tantangan nyata tampaknya masih ada dalam pembagian tanggung jawab domestik. Isu ini menjadi peringatan bagi masyarakat Jepang agar tidak hanya menjaga kebersihan di ruang publik, tetapi juga mewujudkan kesetaraan dan saling membantu di lingkungan keluarga.

Aksi bersih-bersih suporter Jepang di Piala Dunia 2026 tetap dipuji dunia sebagai contoh tanggung jawab sosial, namun kritik dari kalangan perempuan Jepang mengingatkan bahwa perubahan juga harus dimulai dari dalam rumah tangga agar nilai kesetaraan dapat terwujud secara menyeluruh.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.