Media Kampung – Seorang remaja dari lereng Perbukitan Menoreh, Kulon Progo, menjalani transformasi luar biasa setelah bergabung dengan Sekolah Rakyat. Iksan Fajar Susandi, siswa SRMA 20 Sleman, tidak melihat program ini sekadar bantuan sosial, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Baginya, pendidikan yang ia terima adalah utang kepada rakyat yang harus dibayar dengan menjadi manusia berguna.
Keputusan Sadar di Balik Tawaran Sekolah Rakyat
Saat pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) menawarkan masuk Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 20 Sleman di Kalasan, Iksan tidak langsung menerima. Ia memilih mencari tahu dan melakukan cross check. Baginya, keputusan ini menyangkut masa depan. Selain seluruh kebutuhan ditanggung negara, sistem asrama dinilai mampu membentuk kebiasaan, kedisiplinan, dan kemandirian. Orang tuanya pun bisa bekerja tanpa harus memikirkan urusan sekolah dari rumah.
Dari Remaja Pendiam Menjadi Wakil Ketua OSIS
Hari-hari awal di sekolah tidak langsung mengubah Iksan. Wali asuh Siti Musyarofah menggambarkannya sebagai anak yang sangat diam, moody, dan introvert. Namun perlahan, ia mulai terlibat diskusi, berani menyampaikan pendapat, dan membuka diri. Perubahan itu berjalan pelan tetapi pasti. Yang lebih mendasar, cara pandangnya terhadap kehidupan berubah total.
Menyadari Ada yang Lebih Membutuhkan
Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Iksan mengaku merasa berada di lapisan paling bawah. Ayahnya kuli bangunan, ibunya berjualan tempe benguk secara daring. Namun setelah tinggal bersama 74 siswa lain dari berbagai daerah di DIY, ia menyadari setiap orang membawa cerita berbeda. Ada teman yang tumbuh tanpa pengasuhan utuh, ada yang berjuang membangun kepercayaan diri. “Dulu waktu SMP saya merasa yang paling bawah. Tapi setelah di sini saya melihat ternyata ada yang lebih bawah dari saya,” ujarnya. Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri.
Mimpi Menjadi Bupati Kulon Progo
Di lingkungan sekolah, potensi Iksan menemukan ruang untuk bertumbuh. Ia dipercaya menjadi Wakil Ketua OSIS karena teman-temannya melihat sosok yang bisa diajak mendengar dan berpikir bersama. Cita-citanya menjadi Bupati Kulon Progo muncul spontan saat Menteri Sosial Saifullah Yusuf meninjau sekolah. “Kalau memang ditakdirkan jadi bupati ya bupati. Tapi yang penting bagaimana caranya kita bisa jadi berkat buat orang lain,” katanya.
Pesan Presiden yang Menguatkan
Dalam pidato peresmian 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi pada Januari 2026, Presiden Prabowo Subianto menekankan agar anak-anak tidak pernah malu dengan pekerjaan orang tua mereka. Pesan itu terasa dekat dengan kehidupan Iksan yang tumbuh melihat ayahnya sebagai kuli bangunan dan ibunya pedagang kecil. Presiden menyebut program ini sebagai upaya memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan, dengan sasaran anak-anak dari kelompok desil 1 dan desil 2.
Utang kepada Rakyat
Bagi Iksan, pendidikan yang ia nikmati bukan hadiah. Ada kerja keras orang tua, guru, wali asuh, dan negara yang membiayai sekolahnya. Di balik negara, ada jutaan rakyat yang membayar pajak. “Uang negara berasal dari pajak rakyat. Jadi saya punya utang yang harus dibayar kembali kepada rakyat,” katanya dengan penuh kesadaran. Utang itu tidak dibayar dengan uang, melainkan dengan menjadi manusia yang berguna bagi orang lain. Entah kelak menjadi Bupati Kulon Progo atau profesi lain, yang ingin ia bawa pulang bukan sekadar ijazah, melainkan kesadaran bahwa kesempatan hari ini harus menjadi manfaat bagi lebih banyak orang.
Perjalanan Iksan baru saja dimulai. Dari lereng Menoreh ke Sekolah Rakyat, ia belajar bahwa keberhasilan tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ada rakyat yang harus dibalas jasanya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan