Media Kampung – Serial Squid Game yang dirilis Netflix pada 2021 telah menjadi fenomena global dengan lebih dari 600 juta penonton dari musim pertama hingga ketiga. Di balik popularitasnya, serial ini menjadi studi kasus menarik tentang soft power Korea Selatan melalui gelombang Hallyu. Namun, keberhasilan tersebut menyimpan paradoks: citra positif negara dibangun di atas representasi masalah sosial domestik yang masih aktual.

Squid Game sebagai Instrumen Soft Power

Menurut konsep Joseph Nye (2004), soft power adalah kemampuan negara menarik simpati melalui budaya, nilai, dan kebijakan. Squid Game berhasil mengkonversi daya tarik budaya menjadi keuntungan nyata bagi Korea Selatan. Survei Netflix dan Korea Tourism Organization (KTO) tahun 2025 menunjukkan 72% penonton konten Korea tertarik mengunjungi Korea Selatan. Penelitian Korea Culture and Tourism Institute juga menemukan bahwa negara dengan popularitas K-Content tinggi memiliki 106,3% lebih banyak wisatawan ke Korea Selatan.

Nation Branding Melalui Budaya Populer

Keberhasilan Hallyu mengubah persepsi global terhadap Korea Selatan dari negara manufaktur menjadi pusat budaya kreatif. Survei Global Hallyu 2024 oleh Korea Foundation for International Cultural Exchange mencatat sekitar 70% konsumen Hallyu memiliki persepsi positif terhadap budaya Korea. Squid Game menjadi bagian penting ekosistem ini, memperkuat reputasi internasional dan daya tarik pariwisata.

Tiga Paradoks di Balik Kesuksesan

Pertama, citra positif justru lahir dari kritik sosial. Squid Game mengangkat kesenjangan ekonomi, utang rumah tangga, dan kompetisi ekstrem yang nyata di Korea Selatan. Data OECD menunjukkan Korea memiliki tingkat utang rumah tangga dan kemiskinan lansia tertinggi di antara negara anggota. Kedua, manfaat ekonomi tidak merata. Keuntungan terkonsentrasi pada perusahaan besar, platform global seperti Netflix, dan kawasan metropolitan Seoul, sementara masyarakat lokal belum tentu merasakan dampaknya. Ketiga, ketergantungan pada platform global. Distribusi Squid Game sepenuhnya bergantung pada Netflix, menunjukkan bahwa soft power Korea tidak sepenuhnya di bawah kendali negara.

Refleksi Kritis Soft Power Era Digital

Fenomena Squid Game membuktikan bahwa budaya populer efektif sebagai alat diplomasi publik. Namun, keberhasilan ini harus dinilai secara kritis: sejauh mana manfaat dirasakan masyarakat, dan bagaimana representasi realitas sosial dapat berkelanjutan. Soft power tidak lagi semata-masa pencitraan, melainkan juga cerminan kemampuan negara menghasilkan karya yang relevan dan memicu refleksi global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.