Media Kampung – Khawlah binti al-Azwar adalah sosok wanita muslimah yang namanya terukir dalam sejarah Perang Yarmuk. Saudara kandung dari Dhirar bin al-Azwar, seorang ksatria terkemuka di medan pertempuran Persia, Khawlah tidak hanya dikenal karena kecantikan dan kebugarannya, melainkan juga keberanian dan ketangkasannya dalam menunggang kuda serta menggunakan senjata.
Keinginan Berjihad Bersama Sang Kakak
Ketika Dhirar bersiap untuk bergabung dalam ekspedisi militer yang dipersiapkan Khalifah Abu Bakar r.a. untuk membantu pasukan Islam di Syam, Khawlah menyatakan keinginannya untuk ikut serta. Ia tidak rela hanya berdiam di rumah dan bergosip. Dengan tegas ia berkata kepada kakaknya, “Jika peperangan ini diwajibkan atas kalian wahai kaum pria, sesungguhnya Allah pun tidak pernah melarang kami untuk ikut berjihad.” Khawlah berjanji akan membawakan perbekalan, air, merawat yang cedera, serta menyemangati para prajurit. Semangatnya yang membara akhirnya meyakinkan Dhirar, dan Khalifah pun melepas keberangkatan mereka.
Peran Khawlah di Medan Pertempuran
Sesampainya di lokasi, Khawlah mengambil posisi di barisan pertahanan. Ia dengan tenang mengamati jalannya pertempuran, tidak gentar saat pasukan mundur, dan tidak terbawa ambisi saat menyerang. Mobilitasnya tinggi: ia sigap memberikan air kepada prajurit yang kehausan, mengidentifikasi prajurit yang terluka parah, serta mengirimkan logistik dan senjata. Ia menjadi saksi hidup dahsyatnya pertempuran di wilayah Sahura.
Nasib di Ujung Pertempuran
Namun, takdir berkata lain. Dalam pertempuran sengit, Khawlah bersama beberapa wanita pejuang lainnya jatuh ke dalam tawanan pasukan Romawi. Meski demikian, kisah perjuangannya tetap dikenang sebagai teladan pengorbanan dan keberanian seorang wanita dalam membela agama.
Artikel ini disadur dari SuaraIslam.id dan disusun ulang untuk memberikan gambaran lebih jelas tentang jejak pengorbanan Khawlah binti al-Azwar di Perang Yarmuk.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.




Tinggalkan Balasan