Media Kampung – Sejumlah pihak menuding Imam Al-Ghazali sebagai faktor utama kemunduran peradaban Islam, namun pledoi terbaru menegaskan kembali peran sentralnya dalam ilmu dan spiritualitas Islam.

Isu tersebut muncul dalam wacana publikitas modern, terutama di media sosial dan forum akademik yang menyoroti karya-karya filsafatnya.

Imam Al-Ghazali (1058-1111 M), seorang ulama, filsuf, dan sufi asal Tus, dikenal lewat kontribusi lintas disiplin yang memengaruhi pemikiran Islam selama berabad-abad.

Karya monumentalnya seperti “Ihya’ Ulum al-Din” dan “Tahafut al-Falasifa” menjadi referensi utama dalam kajian teologi, etika, serta filsafat Islam.

Melalui “Tahafut al-Falasifa”, ia mengkritik pandangan filosofis yang dianggap menyimpang dari ajaran syariah, tanpa menolak ilmu pengetahuan secara keseluruhan.

Pengaruhnya meluas ke generasi berikutnya, termasuk Ibn Rushd dan Ibn Khaldun, yang mengembangkan pemikiran sosial‑ekonomi dan historiografi.

Manuskrip karya Al‑Ghazali tersebar di lebih dari dua puluh lima perpustakaan dunia, menunjukkan penerimaan luas di kalangan sarjana Timur Tengah, Asia Selatan, dan Eropa.

Beberapa kritikus menganggap kritiknya terhadap filsafat membatasi inovasi ilmiah, menganggapnya sebagai penyebab stagnasi intelektual pada abad ke-13 hingga ke‑15.

Namun, peneliti kontemporer menegaskan bahwa Al‑Ghazali justru berupaya menyelaraskan akal dengan wahyu, bukan menutup pintu pemikiran rasional.

Seperti yang dikutip dari Prof. Ahmad Zahid, “Al‑Ghazali membuka ruang dialog antara teologi dan rasionalitas, bukan menutupnya,” menegaskan pentingnya konteks historis dalam menilai karyanya.

Setelah era Al‑Ghazali, dunia Islam menyaksikan kemajuan signifikan dalam bidang matematika, kedokteran, dan astronomi, menolak anggapan bahwa ia menghentikan inovasi.

Pledoi resmi yang disusun oleh tim akademisi NU, diluncurkan pada 15 April 2024 di Surabaya, menampilkan analisis dokumen historis dan data statistik manuskrip.

Dokumen tersebut menekankan bahwa menuding satu tokoh sebagai penyebab kemunduran menyederhanakan proses kompleks sejarah peradaban Islam.

Penutupnya menyoroti pentingnya pemahaman menyeluruh atas kontribusi Imam Al‑Ghazali, mengajak publik meninjau kembali narasi yang beredar secara kritis.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.