Media KampungJemaah haji Indonesia di Jeddah mendapat himbauan penting untuk memaksimalkan wukuf Arafah, fase puncak ibadah haji, melalui arahan petugas Dendi Yuda Safrullah.

Pernyataan tersebut disampaikan pada Minggu, 24 Mei 2026, menjelang tiba waktunya para jamaah berada di Padang Arafah.

Dendi, yang menjabat sebagai petugas Tusi Bimbingan Ibadah Daker Bandara, menekankan bahwa wukuf bukan sekadar jeda, melainkan kesempatan langka untuk berdoa.

Ia menegaskan bahwa banyak jamaah masih terjebak dalam aktivitas sekuler seperti foto berlebihan atau bermain ponsel.

‘Jangan menyia-nyiakannya dengan hanya berfoto-foto, bermain HP, atau kegiatan di luar berzikir,’ kata Dendi.

Petugas mengingatkan bahwa perjalanan haji dimulai dari manasik hingga tiba di Tanah Suci, sehingga hati perlu dibersihkan sebelum melangkah ke Arafah.

Ia menambahkan, biasanya jamaah sudah melakukan istihlal dan saling memaafkan, sebagai bagian dari persiapan spiritual.

Setibanya di Padang Arafah, jamaah dianjurkan mengisi waktu dengan amalan utama seperti zikir, istighfar, membaca Al‑Quran, dan berselawat.

Dendi menyebut bahwa panduan doa umumnya sudah tertera dalam buku manasik yang dibawa masing‑masing.

Beberapa KBIHU bahkan menyiapkan bacaan khusus yang disebarkan sejak di Tanah Air.

Pelaksanaan wukuf diisi dengan khutbah, salat zuhur dan asar secara jamak qasar, dipimpin oleh imam yang telah ditunjuk.

Rangkaian ibadah ini berlangsung di tenda masing‑masing maktab, dengan khatib yang memimpin secara bergantian.

Setelah khutbah dan salat, sisa waktu dimanfaatkan untuk berdoa, karena Arafah dianggap sebagai maqom ijabah.

Dendi menegaskan, tempat ini memiliki reputasi sebagai lokasi doa yang dikabulkan, sehingga intensitas permohonan harus tinggi.

Ia menambah, jamaah sebaiknya menghindari percakapan yang tidak relevan dan fokus pada permohonan pribadi serta kolektif.

Para pembina haji menyiapkan materi doa yang mencakup permohonan keselamatan, keberkahan, serta pengampunan dosa.

Kondisi cuaca di Arafah pada hari itu diprediksi cerah, memberikan suasana yang kondusif untuk berzikir di luar tenda.

Petugas keamanan bandara juga mengingatkan jamaah untuk menjaga kebersihan area, karena kebersihan fisik turut memengaruhi kebersihan hati.

Beberapa jamaah yang telah menempuh wukuf melaporkan perasaan tenang dan lebih dekat dengan Sang Pencipta.

Seorang jamaah mengaku, “Saya merasakan ketenangan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya ketika berzikir di Arafah.”

Dendi menanggapi, “Pengalaman spiritual seperti itu adalah bukti betapa pentingnya memanfaatkan setiap detik wukuf.”

Selain zikir, jamaah juga disarankan membaca doa-doa khusus yang meliputi permohonan kesehatan keluarga di tanah air.

Petugas menekankan bahwa doa bersama dapat memperkuat ikatan ukhuwah di antara jamaah.

Setiap maktab memiliki jadwal rotasi imam, sehingga semua jamaah dapat mendengarkan khutbah yang berbeda namun tetap sejalan.

Penggunaan teknologi, seperti speaker portable, dibatasi agar tidak mengganggu konsentrasi jamaah lain.

Pihak berwenang menegaskan bahwa penggunaan ponsel hanya diperbolehkan untuk keperluan darurat selama wukuf.

Hal ini bertujuan menghindari distraksi yang dapat mengurangi kekhusyukan ibadah.

Jamaah yang belum sempat menyiapkan bacaan doa dapat meminta bantuan pembina yang siap menyediakan materi.

Setiap pembina memiliki buku doa yang sudah disesuaikan dengan bahasa Indonesia serta terjemahan Arab.

Proses wukuf di Arafah akan berakhir pada sore hari, menandai transisi ke tahapan berikutnya dalam rangkaian haji.

Sesudahnya, jamaah akan melanjutkan ke Muzdalifah untuk melaksanakan ritual berikutnya.

Dendi menutup dengan pesan, “Manfaatkan wukuf Arafah sebagai momentum pembersihan hati, karena setiap doa yang tulus memiliki peluang besar untuk dikabulkan.”

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.