Media Kampung, Jakarta – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memastikan bahwa tiga Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjadi korban penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Jayawijaya, Papua Pegunungan, bukan merupakan intelijen seperti yang sering dituduhkan. Tuduhan tersebut menurut Tito hanya strategi KKB untuk menyebarkan ketakutan di kalangan masyarakat.

Dalam pernyataannya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Tito menjelaskan bahwa kelompok bersenjata kerap menggunakan alasan bahwa korban adalah intelijen untuk membenarkan tindakan kekerasan mereka dan menimbulkan rasa takut. “Ya biasanya begitu, yang disampaikan oleh para kelompok yang melakukan penembakan kekerasan selalu alasannya intel, begitu. Padahal dia berusaha untuk ganggu aja,” ujar Tito.

Baca juga:

Upaya Pengamanan dan Pemantauan

Tito meminta aparat keamanan, termasuk Polri, TNI, dan intelijen, untuk meningkatkan pengawasan dan pemantauan terhadap aktivitas serta pergerakan kelompok-kelompok yang melakukan kekerasan di wilayah Jayawijaya. Langkah ini dianggap penting untuk menciptakan situasi kondusif sehingga masyarakat dan ASN dapat beraktivitas dengan lebih aman dan tenang.

“Saya tentu berharap, teman-teman dari aparat keamanan, Polri, TNI, Intelijen, dapat bisa menjaga situasi yang lebih kondusif, kemudian bisa memantau pergerakan dari kelompok-kelompok itu dan bisa menetralisir kelompok itu,” kata Tito.

Kronologi Penembakan ASN Jayawijaya

Peristiwa penembakan terjadi pada bulan September 2026, ketika tiga staf Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya sedang melakukan kegiatan memberikan bantuan ternak anak babi, pengecekan lahan cetak sawah, dan penyuluhan peternakan. Saat dalam perjalanan menuju Kabupaten Wamena, kendaraan yang mereka tumpangi diduga diadang oleh kelompok bersenjata dan diperintahkan untuk berhenti.

Baca juga:

Ketiga ASN diminta turun dan digiring ke belakang kendaraan sebelum terdengar tiga kali letusan senjata api. Para pelaku kemudian melarikan diri dari lokasi kejadian.

Identifikasi Pelaku oleh Satgas Operasi Damai Cartenz

Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz 2026 berhasil mengidentifikasi dua pelaku penembakan dengan inisial PN dan KT berdasarkan video call yang beredar di media sosial. Kedua orang tersebut telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dan ciri-cirinya telah dicocokkan oleh kepolisian.

Kombes Pol. Yusuf Sutejo, Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz, menyatakan bahwa proses identifikasi ini menjadi bagian upaya penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan di wilayah tersebut.

Baca juga:

Implikasi Keamanan dan Perlindungan ASN

Tito menegaskan bahwa menjaga keamanan dan ketenangan masyarakat, termasuk ASN yang bertugas di daerah rawan konflik seperti Jayawijaya, merupakan prioritas. Dengan situasi yang aman, diharapkan keberanian masyarakat untuk beraktivitas sehari-hari meningkat tanpa rasa takut terhadap serangan atau kekerasan.

Penegakan hukum terhadap pelaku dan pemantauan ketat pergerakan kelompok bersenjata menjadi langkah strategis untuk meredam konflik dan mendukung pembangunan di wilayah tersebut.