Media Kampung, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,43% dalam minggu perdagangan 7‑11 September 2026, menutup pada 6.541,37 poin. Penurunan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang melampaui US$100 per barel serta kenaikan yield US Treasury 10‑tahun.

Lonjakan minyak dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, sementara data inflasi Amerika Serikat menunjukkan Producer Price Index naik 0,4% bulanan dan 5,4% tahunan, menambah kekhawatiran Federal Reserve akan kenaikan suku bunga. Kombinasi faktor eksternal ini menimbulkan sentimen risk‑off di kalangan investor.

Baca juga:

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), kapitalisasi pasar turun 1,32% menjadi Rp 11,446 triliun. Rata‑rata volume transaksi harian menyusut 14,88% menjadi Rp 16,36 triliun, dengan total volume sekitar 30,4 miliar saham. Frekuensi transaksi harian juga menurun 7,07% menjadi 2,22 juta kali.

Investor asing mencatat aksi jual bersih sebesar Rp 3,36 triliun, berbalik dari pembelian bersih Rp 2,3 triliun pekan sebelumnya. Di sisi domestik, empat bank besar (BBCA, BBRI, BMRI, BBNI) mengalami penurunan harga saham meski tetap menyumbang volume transaksi terbesar.

Baca juga:

Analisis pasar memperkirakan IHSG akan terus berada di zona merah hingga tekanan minyak dan yield Treasury mereda. Jika harga minyak tetap di atas US$100 per barel, indeks dapat menguji level support sekitar 6.500 poin.

ParameterNilai
Indeks IHSG6.541,37
Penurunan1,43% (47,96 poin)
Kapitalisasi pasarRp 11,446 triliun
Volume transaksi30,4 miliar saham
Baca juga: