Media Kampung, Jakarta – Emisi kebakaran hutan Indonesia pada minggu pertama September mencapai 19,7 juta metrik ton, melampaui Rusia dan menyumbang lebih dari sepertiga total global.
Lonjakan ini dipicu oleh kondisi El Niño yang memperparah suhu dan kekeringan, menyebabkan kebakaran luas di hutan gambut Kalimantan dan Sumatra. Intensitas emisi melebihi 1.500 kg/km², sepuluh kali lipat level Rusia.
Pemerintah Indonesia menanggapi dengan memperkuat koordinasi ASEAN melalui Perjanjian Transboundary Haze Pollution (AATHP). Laporan harian hotspot, data lingkungan, dan pergerakan asap kini dilaporkan secara rutin kepada Sekretariat ASEAN.
Selain upaya penanggulangan, risiko kesehatan publik meningkat secara signifikan. Partikel asap meningkatkan kasus pernapasan, terutama di wilayah perkotaan yang terkena dampak asap tebal.
Langkah-langkah mitigasi yang sedang dijalankan meliputi:
- Penegakan hukum terhadap pembakaran lahan ilegal.
- Restorasi lahan gambut dengan teknik penutupan air.
- Peningkatan kapasitas pemadam kebakaran daerah.
- Kolaborasi dengan negara tetangga untuk pemantauan satelit real‑time.
Para ahli menekankan bahwa penurunan emisi tidak hanya memerlukan respons darurat, tetapi juga kebijakan jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada lahan gambut sebagai sumber pendapatan.











Tinggalkan Balasan