Media Kampung, Busan – Sebuah kapal tunda bernama TNS Catcher tenggelam di perairan Busan, Korea Selatan pada Rabu, 29 September 2026. Dari delapan awak kapal yang berada di atas kapal tersebut, dua di antaranya merupakan warga negara Indonesia (WNI). Satu WNI berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya masih dalam pencarian bersama enam awak lainnya.

Peristiwa tenggelamnya kapal tunda ini terjadi sekitar pukul 13.29 waktu setempat (11.29 WIB) di lokasi sekitar 9 kilometer sebelah tenggara Oryukdo, Busan. Kapal TNS Catcher yang berbobot 286 ton sedang dalam tugas untuk menarik sebuah kapal niaga yang mengalami kecelakaan sebelum kapal tunda tersebut mengalami kecelakaan dan terbalik.

Baca juga:

Satu WNI berusia 53 tahun berhasil diselamatkan sekitar 20 menit setelah kapal terbalik oleh kapal niaga yang berada di sekitar lokasi. Kondisi WNI tersebut dilaporkan tidak mengancam jiwa. Namun, seorang awak kapal berkewarganegaraan Korea Selatan ditemukan tidak sadarkan diri di dalam kapal dan meninggal dunia setelah dievakuasi ke rumah sakit.

Penjaga Pantai Korea Selatan mengerahkan sumber daya besar untuk operasi pencarian dan penyelamatan, termasuk 13 kapal patroli dan penyelamat, pesawat, serta unit penyelamat khusus. Angkatan Laut Korea Selatan, kapal pemerintah, dan kapal sipil juga diminta untuk membantu dalam pencarian para awak yang hilang, termasuk satu WNI yang masih belum ditemukan.

Baca juga:

Kondisi cuaca dan laut di sekitar lokasi pencarian cukup menantang. Gelombang mencapai ketinggian 1 hingga 1,5 meter dengan angin bertiup dari arah barat laut pada kecepatan 4-6 meter per detik, yang menghambat upaya pencarian.

Kapal TNS Catcher tenggelam sepenuhnya sekitar pukul 15.27 waktu setempat, sekitar dua jam setelah kapal tersebut terbalik. Lokasi kapal tenggelam berada pada kedalaman sekitar 87 meter.

Baca juga:

Pemerintah Korea Selatan, termasuk Presiden Lee Jae Myung, telah memerintahkan agar seluruh sumber daya yang tersedia dikerahkan untuk operasi pencarian dan penyelamatan. Pemerintah Kota Busan juga menggelar rapat darurat dan mengaktifkan pusat penanggulangan bencana. Selain itu, layanan penerjemah darurat disiapkan untuk membantu warga negara asing yang terdampak kecelakaan, termasuk para WNI.