Media Kampung – Banjir bandang yang melanda perbatasan Nepal-Tibet telah menewaskan lebih dari 800 orang dan menyebabkan lebih dari 3.000 orang masih dinyatakan hilang. Ketinggian air di Sungai Bhotekoshi terus meningkat sehingga peringatan siaga tinggi dikeluarkan untuk wilayah Nuwakot dan Rasuwa, memperingatkan risiko banjir bandang yang semakin besar.
Upaya pencarian dan penyelamatan terus dilakukan dengan melibatkan ribuan tentara Nepal serta tim penyelamat khusus dari India, China, dan Korea Selatan. Lebih dari 886 orang telah berhasil diselamatkan, termasuk 149 warga India, sementara 400 orang asing dilaporkan hilang. India telah mengirimkan lebih dari 68 ton bantuan darurat melalui empat penerbangan militer sebagai bagian dari respons cepat negara tetangga tersebut.
Situasi darurat diperparah oleh sekitar 350 orang yang terperangkap di terowongan pembangkit listrik tenaga air Upper Trishuli. Tim penyelamat menggunakan alat berat, suplai oksigen, dan kamera untuk menembus puing dan mencari para korban terperangkap. Pemerintah Nepal juga telah meminta bantuan internasional untuk mempercepat operasi evakuasi dan pencarian.
Peringatan banjir di wilayah tersebut juga dipicu oleh peningkatan aliran air dari hulu yang diinformasikan oleh otoritas China kepada Nepal. Meski kedua negara telah melakukan pertemuan tiga bulan sebelumnya untuk berbagi data mengenai pergerakan glasier dan risiko bencana, Nepal menyatakan belum menerima data peringatan dini yang cukup untuk menghadapi kejadian ini secara optimal.
Di tengah bencana, kisah penyelamatan muncul, seperti seorang guru di Dhading yang berhasil menyelamatkan sekitar 1.600 siswa dari sekolah yang kemudian tersapu banjir. Namun, banyak keluarga masih berkumpul di pos-pos penyelamatan dan rumah sakit untuk mencari kerabat yang hilang atau mengidentifikasi jenazah di kamar mayat yang penuh sesak.
Selain upaya penyelamatan, perhatian juga tertuju pada kasus individu seperti mantan Hakim Madras High Court, V Sivagnanam, yang hilang sejak bencana terjadi. Organisasi advokat di India telah meminta intervensi pihak berwenang untuk membantu pencarian dan pemulangan mantan hakim tersebut.
Dalai Lama ke-14 turut menyampaikan doa dan belasungkawa bagi korban banjir bandang tersebut dalam sebuah upacara doa panjang umur di Ladakh. Ia mengungkapkan keprihatinan mendalam atas tragedi yang terjadi dan mendoakan keselamatan mereka yang masih hilang serta keluarga yang terdampak.
Banjir bandang yang melanda Nepal dan wilayah Tibet pada 26 Agustus ini menggambarkan betapa rentannya kawasan pegunungan Himalaya terhadap bencana alam yang dipicu oleh perubahan iklim dan pergerakan glasier. Peningkatan kerja sama lintas negara dalam pemantauan dan pertukaran data menjadi kunci penting untuk meminimalkan kerugian pada masa depan.
Dalam kondisi darurat ini, fokus utama pemerintah Nepal dan negara-negara pendukung adalah menyelamatkan nyawa, menemukan orang hilang, dan memberikan bantuan darurat kepada para korban. Upaya mitigasi risiko bencana dan peningkatan sistem peringatan dini menjadi prioritas agar tragedi serupa dapat dicegah di kemudian hari.














Tinggalkan Balasan