Media Kampung, Nepal – Pemerintah Nepal mulai menguburkan jenazah korban banjir bandang yang melanda wilayahnya sebagai langkah sementara untuk menjaga kesehatan masyarakat dan memudahkan proses identifikasi keluarga korban. Penguburan ini dilakukan setelah pengambilan sampel DNA dan penandaan jenazah agar kelak dapat diidentifikasi dan dikremasi sesuai tradisi Hindu.
Bencana banjir bandang yang terjadi di Trishuli, Distrik Nuwakot, membawa dampak yang sangat besar, dengan ratusan jenazah ditemukan dan ribuan orang dinyatakan hilang. Sampai tanggal 30 Agustus 2026, data resmi mencatat 752 jenazah telah ditemukan dan 2.502 orang masih hilang, termasuk 589 warga negara asing yang belum diketahui nasibnya.
Penguburan Sementara Berdasarkan Protokol Internasional
Mayoritas penduduk Nepal beragama Hindu yang biasanya melakukan kremasi jenazah di atas kayu bakar. Namun, kondisi darurat membuat pemerintah melakukan penguburan sementara. Menurut Amrit Bahadur Rai, pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri Nepal, langkah ini mengikuti protokol standar internasional seperti yang ditetapkan oleh International Committee of the Red Cross (ICRC).
“Setiap jenazah yang tidak dapat dikenali telah dikuburkan secara sementara setelah pengambilan sampel DNA,” ujar Rai. Hal ini memungkinkan keluarga korban untuk melakukan pencocokan data secara akurat dan memungkinkan penggalian kembali jenazah ketika keluarga siap melaksanakan ritual kremasi sesuai agama mereka.
Kendala dan Permintaan Bantuan Internasional
Pemerintah Nepal menghadapi tantangan besar dalam penyimpanan jenazah yang semakin banyak dan mulai membusuk akibat keterbatasan fasilitas penyimpanan dingin. Untuk itu, Nepal telah meminta bantuan internasional berupa unit penyimpanan pendingin dan perangkat tes DNA guna mengelola jenazah dengan aman dan meminimalkan risiko kesehatan masyarakat.
“Kami membutuhkan lebih dari seribu unit pendingin untuk menyimpan jenazah dengan aman,” tambah Rai. Langkah penguburan ini juga diambil untuk mencegah penyebaran penyakit yang dapat terjadi dari jenazah yang membusuk.
Konteks Budaya dan Kesehatan Masyarakat
Tradisi Hindu di Nepal mengharuskan kremasi sebagai cara pelepasan jenazah. Namun, bencana alam yang besar memaksa pemerintah mengadaptasi proses ini demi mengatasi situasi darurat. Penguburan sementara bukanlah pengganti kremasi, melainkan solusi sementara yang memungkinkan penghormatan terhadap tradisi sekaligus menjaga kesehatan masyarakat luas.
Dengan pencatatan yang cermat dan pengambilan sampel DNA, pemerintah berupaya mengakomodasi kebutuhan keluarga korban untuk melakukan ritual keagamaan pada waktu yang tepat dan aman.
Bencana banjir bandang ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan dan dukungan internasional dalam menghadapi bencana besar, terutama dalam pengelolaan jenazah yang melibatkan aspek budaya, agama, dan kesehatan masyarakat.















Tinggalkan Balasan