Media KampungDesil baru dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) menjadi isu penting dalam menentukan siapa yang berhak menerima bantuan sosial dan subsidi pemerintah. Pengelompokan masyarakat berdasarkan desil bertujuan untuk memetakan posisi ekonomi secara relatif, namun jika angka ini dijadikan patokan mutlak, bisa menimbulkan ketidakadilan, terutama bagi kelas menengah yang berada di desil atas.

Peran dan Fungsi Desil dalam Kebijakan Sosial

Desil membagi masyarakat menjadi sepuluh kelompok berdasarkan kondisi sosial ekonomi secara relatif. Namun, masuk ke desil 9 atau 10 tidak serta merta menandakan seseorang sangat kaya. Rentang pendapatan dan aset dalam kelompok ini sangat beragam. Oleh karena itu, kebijakan yang hanya mengacu pada angka desil bisa salah sasaran.

Baca juga:

Angka desil dapat membantu pemerintah memahami pola sosial ekonomi, tetapi tidak selalu mencerminkan kondisi riil keluarga yang mungkin memiliki beban besar seperti cicilan rumah, biaya pendidikan, atau tanggungan lainnya.

Tantangan dalam Penentuan Penerima Bantuan Sosial

Menurut ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, penggunaan desil 9 dan 10 sebagai indikator otomatis kelompok kaya berpotensi menimbulkan masalah. Pengukuran pengeluaran absolut dinilai lebih tepat untuk mengidentifikasi kelompok ekonomi atas daripada hanya melihat posisi relatif dalam distribusi masyarakat.

Penyaluran bantuan sosial menghadapi dua jenis kesalahan utama, yaitu inclusion error (penerima bantuan yang tidak berhak) dan exclusion error (yang berhak justru tidak menerima bantuan). Mencegah kesalahan ini memerlukan keseimbangan dan kehati-hatian dalam membaca data.

Baca juga:

Data dan Realitas Sosial yang Berbeda

Kehidupan ekonomi masyarakat dinamis dan bisa berubah cepat, sementara data yang digunakan dalam sistem DTSEN mungkin belum mencerminkan kondisi terbaru. Keluarga yang kehilangan pekerjaan, mengalami perubahan tanggungan, atau kesulitan keuangan bisa saja terlewatkan dalam klasifikasi yang ada.

Oleh karena itu, pemutakhiran data harus menjadi proses berkelanjutan dengan mekanisme koreksi yang memungkinkan masyarakat mengajukan keberatan dan memperbaiki data mereka secara transparan dan terverifikasi.

Mengoptimalkan Penggunaan Desil dalam Kebijakan Publik

Pemerintah perlu menghindari penggunaan desil sebagai satu-satunya indikator dalam menentukan akses bantuan sosial dan subsidi. Indikator tambahan seperti pendapatan, pengeluaran, jumlah tanggungan, kepemilikan aset, dan kondisi tempat tinggal harus dipertimbangkan untuk menghasilkan kebijakan yang adil dan tepat sasaran.

Baca juga:

Verifikasi data di tingkat daerah dan transparansi dalam proses pengajuan keberatan menjadi elemen penting untuk menjaga keakuratan dan keadilan sistem.

Kesimpulan

Desil baru dalam DTSEN merupakan alat penting untuk memetakan kondisi sosial ekonomi masyarakat, tetapi tidak boleh dijadikan vonis mutlak. Pemerintah harus menyeimbangkan penggunaan data dengan pemahaman terhadap realitas kehidupan masyarakat agar bantuan sosial dan subsidi tepat sasaran dan tidak merugikan kelas menengah yang masih rentan. Keberhasilan kebijakan bergantung pada kemampuan data untuk mendukung keadilan sosial, bukan hanya pada ketepatan angka semata.