Media Kampung, Gunungkidul – Dua remaja kakak beradik berusia 15 dan 14 tahun membakar dapur Madrasah Ibtidaiyah (MI) YAPPI Natah di Jalan Ngawen-Nglipar, Kabupaten Gunungkidul. Peristiwa ini diduga dilatarbelakangi oleh dendam akibat pengalaman masa lalu mereka sebagai korban bullying dan pemukulan oleh guru.

Kedua pelaku diketahui membawa bahan bakar solar dari rumah dan menggunakan jerami serta kertas yang ada di lokasi untuk membakar dapur sekolah. Pelaku yang lebih tua sudah tidak bersekolah lagi, sementara adiknya masih tercatat sebagai siswa di MI tersebut.

Baca juga:

Motif dan Kronologi Kejadian

<pMenurut Kasat Reskrim Polres Gunungkidul AKP Tri Hartanto, pengakuan kedua pelaku menyebutkan bahwa mereka pernah menjadi korban bullying oleh teman-teman sekolah dan juga pernah dipukul oleh seorang guru sekitar tujuh tahun yang lalu, saat masih duduk di kelas 1 atau 2.

“Pelaku mengaku pernah diejek oleh temannya dan juga dipukul oleh guru yang dulu saat kelas 1,” ujar AKP Tri Hartanto dalam konferensi pers. Dendam dan rasa jengkel atas kejadian tersebut menjadi motif utama dalam aksi pembakaran sekolah.

Baca juga:

Tindakan dan Penanganan Polisi

Polisi masih melakukan penyelidikan terkait kejadian ini. Keduanya telah diperiksa namun tidak ditahan karena masih di bawah umur. Polisi juga berencana melakukan pendalaman kasus bullying dan pemukulan yang dialami para pelaku dengan melibatkan pendampingan dari Balai Pemasyarakatan (Bapas), dinas terkait, dan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).

Kondisi Sekolah Pasca Kebakaran

Garis polisi dipasang hanya di area dapur yang terbakar. Sementara ruang kelas lain yang tidak terdampak sudah dibuka kembali untuk aktivitas belajar mengajar, sehingga proses pendidikan di MI YAPPI Natah tidak terganggu secara signifikan.

Baca juga:

Perhatian terhadap Kasus Bullying di Sekolah

Kejadian ini menjadi sorotan penting mengenai perlunya perhatian serius terhadap kasus bullying di lingkungan sekolah. Bullying yang tidak tertangani dapat menimbulkan dampak psikologis serius hingga memicu tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Pihak sekolah dan orang tua diharapkan dapat bekerja sama untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung bagi semua siswa.