Media Kampung – 12 April 2026 | Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haegar Nashir, menegaskan bahwa Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) harus tampil progresif dalam menghadapi dunia yang semakin sentrifugal.

Upacara pengukuhan kepengurusan IPM periode 2026–2028 dilaksanakan pada 12 April 2026 di Amphitarium Lantai 9, Gedung Utama Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

Acara tersebut dibuka dengan agenda berjudul “Arah Baru IPM: Membumikan Gerakan, Mencerdaskan Semesta”, yang menekankan peran strategis organisasi mahasiswa dalam pembangunan bangsa.

Pengukuhan ini menandai dimulainya masa jabatan baru bagi pengurus IPM yang akan memimpin selama dua tahun, dengan fokus pada inovasi dan keterlibatan sosial.

Haegar Nashir, selaku Ketua Umum Muhammadiyah, menegaskan bahwa komitmen IPM bukan sekadar formalitas, melainkan ikatan yang harus diimplementasikan secara nyata di lapangan.

“IPM harus menjadi agen perubahan yang responsif terhadap dinamika global, sekaligus memelihara nilai-nilai Islam yang moderat,” ujar Nashir dalam pidatonya.

Istilah dunia yang kian sentrifugal mengacu pada fenomena fragmentasi sosial, teknologi yang cepat berkembang, serta pergeseran nilai budaya yang menuntut organisasi muda untuk adaptif.

Ia menambahkan bahwa tantangan utama IPM meliputi digitalisasi, pluralisme, dan kebutuhan akan kepemimpinan yang inklusif serta beretika.

Visi “Membumikan Gerakan, Mencerdaskan Semesta” menekankan pentingnya mengimplementasikan gerakan sosial di masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas intelektual mahasiswa.

Program unggulan yang direncanakan meliputi pelatihan kepemimpinan, beasiswa bagi mahasiswa berprestasi, serta workshop inovasi teknologi ramah lingkungan.

Kolaborasi dengan Universitas Ahmad Dahlan diharapkan memperkuat jaringan akademik, memperluas akses sumber daya, dan memfasilitasi riset bersama.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberikan dukungan penuh, termasuk pendanaan operasional dan bimbingan kebijakan untuk memastikan keberlanjutan program IPM.

Target keanggotaan IPM tahun ini ditetapkan sebesar 150.000 mahasiswa di seluruh Indonesia, dengan peningkatan partisipasi aktif di setiap fakultas.

Strategi progresif mencakup peningkatan peran perempuan dalam kepengurusan, pengembangan kebijakan keberlanjutan, serta penerapan teknologi informasi dalam manajemen organisasi.

Beberapa kegiatan mendatang meliputi seminar kepemudaan, kampanye literasi digital, serta aksi sosial di daerah‑daerah terdampak pandemi.

Dalam konteks pendidikan tinggi nasional, IPM berupaya menjadi contoh organisasi mahasiswa yang mengintegrasikan nilai keagamaan dengan kompetensi global.

Pergeseran paradigma global menuntut mahasiswa untuk lebih kritis, adaptif, serta berkontribusi pada solusi nyata bagi masalah sosial dan lingkungan.

Dengan agenda baru yang progresif, IPM berkomitmen melaksanakan programnya secara terukur, memantau dampak, dan melaporkan hasil kepada seluruh anggota serta masyarakat luas.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.