Media Kampung, Malang – Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo belum sepenuhnya padam. Titik api baru kembali muncul di Blok B29, Kabupaten Lumajang, dan upaya pemadaman terus dilakukan oleh petugas gabungan dengan dukungan helikopter water bombing.
Titik api di Blok B29 masih aktif meskipun sebagian besar area kaldera Gunung Bromo telah berhasil dipadamkan. Lokasi kebakaran yang berada di lereng dan punggungan bukit dengan akses sulit membuat operasi pemadaman menggunakan jalur darat menjadi terbatas. Oleh karena itu, dua helikopter water bombing diterjunkan untuk menjangkau titik api yang sulit diakses dan memadamkan api secara efektif dari udara.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Rudijanti Tjahja Nugraha, menyatakan bahwa kebakaran yang awalnya terjadi di Blok Bantengan sejak 3 Agustus 2026 telah meluas ke beberapa area termasuk Watu Gede, Blok Jantur, dan kini ke arah Bukit B29. Kondisi angin kencang menjadi faktor utama yang mempercepat perambatan api ke timur, sehingga memperluas luas lahan yang terbakar. Sampai saat ini, total luas area yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 176 hektare, meskipun angka pasti masih dalam penghitungan.
Dalam proses pemadaman, petugas gabungan mengandalkan berbagai peralatan seperti mobil pemadam kebakaran, jet shooter, alat pemukul api (gebyok), serta pembuatan sekat bakar untuk menghambat laju api dari jalur darat. Namun, karena medan yang sulit, operasi udara dengan dua helikopter water bombing yang dikirimkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi kunci dalam mengendalikan kebakaran.
Selain itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur juga mengerahkan drone water sprayer untuk menjangkau titik api yang tidak dapat diakses oleh petugas di lapangan. Operasi udara dilakukan secara intensif mulai pukul 10.00 hingga 14.00 WIB dengan masing-masing helikopter melakukan beberapa kali penerbangan mengambil air dari Ranu Pani ke lokasi kebakaran. Namun, operasi water bombing sempat dihentikan sementara karena kondisi cuaca yang tidak mendukung dan akan dilanjutkan kembali saat kondisi membaik.
Balai Besar TNBTS menduga kebakaran ini dipicu oleh faktor manusia, terutama aktivitas yang tidak sengaja menimbulkan api di jalur perlintasan antara Kabupaten Malang dan Lumajang. Jalur tradisional yang menghubungkan Desa Argosari dengan Ranupani sering dilalui warga dan wisatawan, yang kadang membuat api unggun untuk menghangatkan diri di suhu dingin kawasan TNBTS. Meskipun tidak disengaja, api yang muncul dapat menyebar luas akibat kondisi cuaca dan angin kencang.
Pihak berwenang saat ini masih fokus pada upaya pemadaman dan pengendalian kebakaran agar tidak meluas ke area lain di taman nasional. Investigasi lebih lanjut terkait penyebab kebakaran juga akan dilakukan setelah situasi dapat dikendalikan.
Kebakaran ini berdampak pada tiga kabupaten yaitu Kabupaten Probolinggo, Lumajang, dan Malang, sehingga penanganan dan koordinasi antar instansi menjadi sangat penting. Keselamatan personel di lapangan juga menjadi prioritas utama dalam proses pemadaman yang berlangsung di medan sulit ini.















Tinggalkan Balasan