Media Kampung – Dugaan korupsi anggaran pakan satwa di Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang menyeret eks Direktur Utama PDTS KBS, Chairul Anwar, telah menimbulkan dampak serius. Fasilitas menjadi tidak terawat, rusak, dan kotor, sementara kondisi kesehatan satwa mengalami penurunan akibat pemangkasan anggaran pakan.
Standar Ideal Pakan Satwa
Menurut Boedi Setiawan, pakar satwa dan dokter hewan dari Universitas Airlangga, pakan harian hewan di kebun binatang harus dihitung berdasarkan berat badan hewan. Contohnya, harimau membutuhkan 5 sampai 10 persen dari berat badannya dalam pakan setiap hari. Jika berat harimau 100 kg, maka kebutuhan pakan sekitar 10 kg per hari.
Di alam liar, harimau mengonsumsi hewan utuh termasuk tulang, yang menjadi sumber kalsium penting. Namun, di kebun binatang, harimau biasanya diberi daging murni tanpa tulang, yang dapat menyebabkan kekurangan kalsium dan masalah kesehatan seperti tulang lemah atau pincang. Oleh karena itu, pemberian tulang sebagai sumber kalsium harus diselingi dalam pakan harian, misalnya 4 kg daging dan 1 kg ayam dengan tulangnya.
Pakan Satwa Herbivora
Untuk satwa herbivora seperti jerapah, kebutuhan pakan berupa tumbuhan mencapai 10 persen dari berat badan setiap hari. Pakan sebaiknya disusun agar hewan dapat makan seperti di habitat aslinya, misalnya dengan mengikat tumbuhan di tempat yang dapat dijangkau jerapah.
Perawatan dan Kesejahteraan Satwa
Selain pakan, vaksinasi rutin juga sangat penting untuk menjaga kesehatan satwa. Harimau, sebagai kucing besar, memerlukan vaksinasi mirip dengan kucing kecil guna mencegah penyakit virus seperti distemper.
Pengelolaan kandang juga berpengaruh pada kesejahteraan hewan. Kandang yang terlalu sempit tidak memungkinkan satwa untuk bergerak bebas seperti di habitat alam yang luas, yang idealnya mencapai sekitar 3 km persegi.
Indikator keberhasilan pengelolaan kebun binatang adalah kemampuan satwa untuk berkembang biak dan kondisi tubuh yang sehat serta gemuk. Pendekatan animal welfare yang baik dan penuh perhatian akan mendukung kesejahteraan satwa.
Klarifikasi dari KBS
Direktur Operasional dan Umum PDTS KBS, Nurika Widyasanti, menjelaskan bahwa pemberian pakan dilakukan dua kali sehari sesuai spesies dan karakteristik satwa, yaitu pagi dan sore hari. KBS juga meningkatkan kualitas kesehatan satwa dengan metode enrichment agar satwa dapat berperilaku alami.
Nurika menegaskan bahwa KBS memberikan pakan dan perawatan sesuai kaidah animal welfare meskipun ada pemberitaan mengenai kekurangan pakan.















Tinggalkan Balasan