Media Kampung – Anggota DPD RI asal Bali, Ni Luh Djelantik, mendesak kepolisian dan imigrasi untuk menindaklanjuti dugaan diskriminasi yang dilakukan oleh komunitas lari warga negara asing (WNA) bernama Entourage Bali. Komunitas tersebut dituding melarang warga negara Indonesia (WNI) untuk berpartisipasi dalam event lari yang digelar di Bali.

“Kami meminta kepada pihak Imigrasi Bali dan juga Polda Bali agar dapat menindaklanjuti laporan kami terkait dengan dugaan diskriminasi oleh WNA-WNA dan juga kegiatan-kegiatan yang diduga tidak berizin,” ujar Ni Luh melalui akun Instagram pribadinya, Jumat (24/7).

Baca juga:

Ni Luh menegaskan bahwa tidak seharusnya komunitas lari tersebut menolak kepesertaan warga lokal atau WNI, karena kegiatan itu digelar di Bali. “Dan kepada para WNA ataupun foreigners yang tidak menerima keanggotaan warga negara Indonesia, kalian melakukannya di Bali, kalian melakukannya di Indonesia. Ini adalah tanah air kami. So, we’re gonna keep an eye on you,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar turis asing tetap menghargai dan menghormati warga lokal. “Bali itu menyambut (WNA) dengan terbuka, tetapi keramahan kami tidak boleh disalahartikan sebagai izin untuk tidak menghormati kami,” tuturnya. “Saya menulis ini untuk mendesak agar segera dilakukan penyelidikan terhadap operasional komunitas lari yang dikelola warga asing di Canggu (Entourage Bali) serta seluruh pesertanya.”

Ni Luh mengaku sudah dihubungi oleh salah satu penyelenggara acara lari tersebut. Namun, ia menegaskan mereka harus bertanggung jawab. “Salah satu penyelenggara telah menghubungi saya dengan surat permohonan maaf, tetapi keputusan saya tetap sama: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Oleh karena itu, saya akan menginstruksikan mereka untuk kembali ke Indonesia dan bertanggung jawab atas tindakan mereka,” kata Ni Luh.

Baca juga:

Entourage Minta Maaf

Melalui pernyataan resminya, Entourage menyampaikan permintaan maaf kepada siapa pun yang merasa tersinggung atau dirugikan. “Kami ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang merasa tersinggung atau terluka. Kami tidak pernah bermaksud bersikap tidak hormat ataupun melakukan diskriminasi terhadap siapa pun,” kata Komunitas Entourage dalam pernyataan resminya, Jumat (24/7).

Entourage menjelaskan bahwa komunitas tersebut awalnya dibentuk sebagai wadah bagi para digital nomad di Bali agar dapat saling terhubung dan mengikuti berbagai kegiatan bersama selama berada di Pulau Dewata. Menurut mereka, status sebagai digital nomad tidak ditentukan oleh kewarganegaraan. “Komunitas kami beranggotakan orang-orang dari berbagai negara, termasuk Indonesia,” ucapnya.

Entourage menyebut bahwa seluruh kegiatan lari mereka selama ini terbuka untuk semua orang tanpa memerlukan pendaftaran. Hanya saja, acara Silent Disco Run yang digelar pekan lalu menerapkan sistem tiket karena keterbatasan jumlah. Mereka mengeklaim peserta asal Indonesia menjadi kelompok terbesar dalam kegiatan tersebut. “Dalam acara tersebut, peserta asal Indonesia merupakan kelompok terbesar, dengan hampir 25 persen dari total tiket yang terjual,” katanya.

Baca juga:

Meski demikian, Entourage mengakui telah melakukan kesalahan dalam sistem persetujuan otomatis untuk grup WhatsApp dan sejumlah kegiatan non-lari. “Saat berupaya menciptakan ruang bagi para digital nomad untuk saling bertemu, sistem tersebut justru menimbulkan bias sehingga sebagian, meski tidak semua, pengguna nomor telepon Indonesia (62) ditolak secara keliru,” jelasnya.