Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan signifikan sebesar 20 persen dari level terendah pada awal Juni 2026, mendekati status bull market. Reli ini didorong oleh rotasi investor ke saham-saham yang sebelumnya tertinggal, meredanya kekhawatiran fiskal, serta serangkaian kebijakan pro-pasar dari pemerintah dan Bank Indonesia.
Pada Kamis, 23 Juli 2026, IHSG melonjak hingga 1,5 persen. Secara akumulasi, indeks telah naik 20 persen sejak mencapai titik terendah pada 8 Juni 2026. Saham-saham berkapitalisasi besar di sektor komoditas, seperti PT Amman Mineral Internasional dan PT Barito Renewables Energy, menjadi motor utama penguatan.
Sentimen Positif dari Kebijakan Moneter dan Fiskal
Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen pada 22 Juli 2026, setelah sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin secara kumulatif pada Juni. BI juga meluncurkan insentif untuk menarik aliran modal asing dan memperkuat rupiah. Di sisi fiskal, pemerintah meningkatkan disiplin anggaran, termasuk menyesuaikan skala program makan siang gratis, yang turut menenangkan pasar.
Keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat dan prospek kredit Indonesia juga membantu menstabilkan sentimen. Rupiah menguat lebih dari 1 persen pada Kamis dibanding rekor terendahnya di awal Juni, sementara imbal hasil surat utang negara tenor 10 tahun turun lebih dari 10 basis poin dari level tertinggi tiga tahun.
IHSG Ungguli Indeks Global, Namun Risiko Masih Ada
Dengan kenaikan 14 persen sepanjang Juli, IHSG berhasil mengungguli berbagai indeks acuan global. Namun, reli ini belum sepenuhnya menghapus kerugian tahun berjalan. IHSG masih mencatat penurunan sekitar 26 persen year-to-date, seiring kekhawatiran transparansi pasar dan arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto.
Keputusan MSCI Inc. pada November 2026 mengenai kemungkinan penyesuaian status saham Indonesia menjadi frontier market masih membayangi. S&P Dow Jones Indices juga memberikan sinyal serupa. Meskipun investor asing masih mencatatkan jual bersih, arus keluar mulai mereda: pada Juli 2026 tercatat 161 juta dolar AS, jauh lebih rendah dibanding Juni yang mencapai lebih dari 1 miliar dolar AS.
Prospek ke Depan
Mohit Mirpuri, partner di SGMC Capital Pte, Singapura, menilai level terendah 8 Juni kemungkinan akan bertahan karena pasar mulai memperhitungkan stabilitas. Rajiv Batra, co-head for global emerging markets equity strategy JPMorgan Chase & Co., menambahkan bahwa begitu pasar yakin Indonesia tetap di emerging markets dan MSCI merestui langkah kebijakan, aliran modal asing diprediksi akan kembali deras.
Pasar belum sepenuhnya memperhitungkan langkah reformasi untuk mencegah penurunan status indeks. Posisi underweight dari investor jangka panjang masih besar, yang justru membuka peluang bagi reli yang lebih berkelanjutan jika keyakinan pasar pulih.















Tinggalkan Balasan