Media Kampung, Korea Selatan mencatat lonjakan impor kopi tanpa kafein (decaf) sebesar 5.387 ton pada paruh pertama 2026, naik 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Data Korea Customs Service menunjukkan tren ini berlanjut setelah impor decaf tahun lalu mencapai 10.040 ton, lebih dari dua kali lipat dibandingkan 4.755 ton pada 2021.

Fenomena ini didorong oleh perubahan kebiasaan konsumen yang semakin peduli kesehatan. Alih-alih berhenti minum kopi, banyak orang Korea memilih mengurangi asupan kafein dengan beralih ke kopi decaf, terutama pada sore atau malam hari. Konsumen berusia 20–30 tahun menjadi pendorong utama, menyumbang sekitar 60 persen pembelian kopi decaf di jaringan Starbucks, yang tahun lalu menjual 45,5 juta cangkir kopi decaf—meningkat 39 persen dibandingkan 2024.

Baca juga:

Inovasi Produk dan Metode Produksi

Jaringan kedai kopi berlomba memenuhi permintaan. Ediya Coffee memungkinkan pelanggan mengganti semua minuman berbasis espresso dengan biji decaf, serta meluncurkan kopi stik campuran decaf dan jelai Italia, serta latte decaf siap minum. Twosome Place mengombinasikan milk tea rooibos bebas kafein dengan satu shot espresso decaf. Compose Coffee menggandeng anggota BTS, V, dalam kampanye iklan yang menampilkan kopi decaf sebagai teman belajar larut malam.

Peningkatan kualitas produksi turut mendorong popularitas. Produsen kini beralih dari pelarut kimia ke metode air atau karbon dioksida superkritis yang mampu mempertahankan keasaman dan karakter rasa biji kopi. Starbucks, misalnya, menghilangkan 99,9 persen kafein menggunakan karbon dioksida superkritis dan uap air, sehingga rasa kopi decaf hampir tidak bisa dibedakan dari kopi biasa.

Baca juga:

Regulasi Baru Menanti

Pemerintah Korea Selatan akan memperketat standar label decaf mulai 1 Januari 2028. Saat ini, produk dapat diberi label decaf jika setidaknya 90 persen kafein telah dihilangkan—lebih longgar dari standar internasional 99 persen. Aturan baru mensyaratkan sisa kafein maksimal 0,1 persen berdasarkan kandungan padatan.

Profesor ilmu konsumen di Inha University, Lee Eun-hee, mengatakan tren ini merupakan kelanjutan dari personalisasi konsumsi. “Dengan meningkatnya perhatian terhadap kesehatan dan kebugaran, kafein kini menjadi faktor yang sama pentingnya dalam memilih minuman seperti halnya protein atau gula,” ujarnya.

Baca juga: