Media Kampung, Tanah Datar — Sebanyak 51 peserta memulai perjalanan pembelajaran dalam program Belajar Bersama Maestro (BBM) 2026. Selama satu bulan ke depan, mulai 15 Juli hingga 15 Agustus 2026, para peserta belajar langsung bersama enam maestro seni dan budaya Indonesia di kediaman dan sanggar masing-masing maestro.
Program BBM 2026 menghadirkan enam maestro dari berbagai bidang seni, yaitu Musra Dahrizal (Mak Katik) sebagai Maestro Randai, Jatnika Nanggamiharja sebagai Maestro Kriya Bambu, Jaja Miharja (Ayah Jaja) sebagai Maestro Lenong Betawi, I Gusti Nengah Nurata sebagai Maestro Lukis, Sulistyo Tirtokusumo sebagai Maestro Tari Bedhaya, serta Ahmad Tohari sebagai Maestro Sastra. Selama masa pembelajaran, para maestro mendampingi peserta untuk mempelajari sejarah, filosofi, teknik, hingga praktik berkesenian sesuai bidang keahlian masing-masing.
Salah satu lokasi program BBM adalah Rumah Puisi Taufik Ismail di Jalan Raya Padang Panjang – Bukittinggi Km. 6, Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Di lokasi tersebut, 10 peserta belajar bersama maestro randai Musra Dahrizal alias Mak Katik.
Kesempatan Langka Belajar Langsung dari Maestro
Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, Nurmatias Zakaria, Kamis, 16 Juli 2026, menyebutkan tidak seluruh peserta beruntung bisa belajar langsung bersama maestro. “Ini adalah kesempatan luar biasa bagi adik-adik untuk menggali ilmu selama 24 jam penuh setiap hari selama satu bulan,” ujarnya.
Nurmatias menjelaskan, tahun ini fokus pembelajaran mencakup berbagai bidang, mulai dari seni lukis, teater, tari, hingga randai. “Khusus untuk randai, materi yang diajarkan sangat istimewa, mengingat randai telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh UNESCO pada tahun 2017,” katanya.
Di Tanah Datar, kegiatan difokuskan pada seni tari, teater, dan randai dengan bimbingan langsung dari para maestro. “Para peserta diharapkan dapat memanfaatkan waktu 30 hari ini dengan sebaik-baiknya untuk mengasah karakter, kedisiplinan, dan kemampuan seni mereka,” ujar Nurmatias.
Nurmatias berharap program ini tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menginspirasi generasi muda untuk terus mencintai dan mengembangkan seni budaya Indonesia.
Maestro Randai: Menggali Nilai Demokrasi dalam Budaya Minangkabau
Maestro Randai Sumatra Barat, Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto atau yang lebih dikenal dengan Mak Katik, merupakan budayawan, seniman, dan pengajar senior Minangkabau yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri pada pelestarian randai, sastra lisan, silek, pantun, dan falsafah adat Minangkabau.
Mak Katik menyampaikan, program ini berfokus pada randai yang di dalamnya terdapat perpaduan antara silat, sastra, musik, dan dendang. Ia menegaskan, para peserta nantinya ditargetkan dapat memperkuat pemahaman mengenai nilai-nilai demokrasi yang terkandung dalam budaya Minangkabau. “Sepuluh peserta terpilih yang mengikuti Belajar Bersama Maestro di Aia Angek ini berasal dari Provinsi Aceh, Medan, Sumbar, dan Provinsi Jawa Timur, yang mengikuti kegiatan selama satu bulan penuh,” terangnya.
Selama 30 hari, peserta tidak hanya mempelajari teknik pertunjukan randai, tetapi juga menyelami nilai, filosofi, serta cara pandang kebudayaan yang diwariskan.
Pendekatan Pembelajaran yang Utuh
Belajar Bersama Maestro bukan sekadar program pembelajaran seni. Program ini merupakan ruang hidup tempat generasi muda belajar melalui keteladanan, kedisiplinan, praktik artistik, dan kehidupan sehari-hari para maestro. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih utuh sekaligus memperkuat proses pewarisan pengetahuan dan nilai-nilai budaya antargenerasi.
Peserta BBM 2026 berasal dari berbagai perguruan tinggi dengan latar belakang pendidikan yang beragam, didominasi oleh mahasiswa di bidang seni dan budaya. Keberagaman tersebut juga tercermin dari asal daerah peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Pulau Jawa, Sumatra, hingga Kalimantan.
Pelepasan peserta dilaksanakan secara serentak pada Rabu, 15 Mei 2026, di lokasi pembelajaran masing-masing maestro, yaitu Padang Panjang untuk Maestro Randai, Bogor untuk Maestro Kriya Bambu, DKI Jakarta untuk Maestro Lenong Betawi dan Maestro Tari Bedhaya, Surakarta untuk Maestro Lukis, serta Banyumas untuk Maestro Sastra.
Melalui BBM 2026, Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya menjaga keberlanjutan kebudayaan Indonesia dengan memastikan api pengetahuan para maestro terus menyala di tangan generasi penerus.






















Tinggalkan Balasan