Media Kampung, Surabaya — Sebanyak 150 perusahaan dari 17 negara berpartisipasi dalam Manufacturing Surabaya 2026, pameran manufaktur berskala internasional yang resmi dibuka di Grand City Convention Exhibition Center (Convex) pada Selasa, 15 Juli 2026. Pameran ke-20 ini akan berlangsung hingga 18 Juli 2026 dan menargetkan lebih dari 9.000 pengunjung, meningkat 25 persen dibanding tahun sebelumnya.

Portfolio Director PT Pamerindo Indonesia, Meysia Stephanie, mengatakan bahwa selama dua dekade terakhir, Manufacturing Surabaya terus bertransformasi mengikuti kebutuhan industri. Menurutnya, transformasi manufaktur saat ini tidak hanya bergantung pada teknologi baru, tetapi juga pada kolaborasi antarpelaku industri.

“Hari ini menjadi awal dari berbagai kolaborasi yang kami harapkan dapat menghasilkan dampak nyata bagi industri. Transformasi manufaktur tidak lagi hanya ditentukan oleh kehadiran teknologi baru, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pelaku industri untuk saling terhubung, berbagi pengetahuan, serta membangun rantai pasok yang semakin kuat dan berkelanjutan,” kata Meysia dalam keterangan resmi, Rabu 16 Juli 2026.

Ia menambahkan, pihaknya ingin memastikan setiap peserta tidak hanya melihat inovasi terbaru, tetapi juga menemukan solusi yang relevan, mitra strategis, dan peluang bisnis yang mampu meningkatkan produktivitas serta daya saing perusahaan.

Perluasan Cakupan Pameran

Pada tahun ini, penyelenggara memperluas cakupan dengan menghadirkan Growtech Indonesia dan Indonesia Energy Week Surabaya, yang mencakup Electric Power Indonesia serta Water Indonesia. Kehadiran sektor energi dan agrikultur diharapkan memperkuat keterhubungan antarsektor sekaligus mempercepat adopsi inovasi.

Selain pameran, Manufacturing Surabaya 2026 juga menghadirkan berbagai program pendukung, seperti Business Matching Programme, Kaizen Clinic, HSE Championship, dan Forklift Hero Competition edisi ketiga. Program-program ini bertujuan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia sekaligus memperluas peluang kemitraan.

Peran Strategis Jawa Timur

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyebutkan bahwa penyelenggaraan Manufacturing Surabaya selama 20 tahun telah menjadikan Surabaya sebagai salah satu pusat perkembangan teknologi manufaktur di Indonesia.

“Ini menjadi center of gravity untuk melihat teknologi-teknologi terbaru dan mempertemukan para pelaku industri. Perusahaan bisa saling berbicara, berkolaborasi, sehingga kita menjadi rumah bagi pengembangan manufaktur yang relevan terhadap tantangan masa depan,” ujar Emil.

Menurut Emil, kontribusi sektor manufaktur di Jawa Timur mencapai lebih dari 30 persen terhadap perekonomian daerah dan sekitar 20 persen terhadap manufaktur nasional. Ia menekankan bahwa penguatan industri harus berjalan beriringan dengan transformasi energi, dimulai dari langkah-langkah sederhana seperti pemanfaatan energi surya, konservasi energi, dan peningkatan efisiensi listrik.

“Transisi energi tidak bisa ujug-ujug, harus dicicil dari sekarang. Yang paling penting adalah bagaimana beralih ke sumber energi yang lebih bersih dan mengurangi konsumsi energi untuk menghasilkan output yang sama atau bahkan lebih baik,” katanya.

Emil menambahkan, tuntutan pasar global mendorong perusahaan semakin serius menerapkan praktik berkelanjutan. Perusahaan yang tidak mampu menunjukkan upaya pengurangan emisi dan efisiensi energi melalui sustainability report akan semakin sulit bersaing di pasar internasional.

Peserta dan Harapan ke Depan

Manufacturing Surabaya 2026 menghadirkan sejumlah perusahaan global seperti Gardner Denver, Sodick, dan Trakindo Indonesia. Memasuki usia ke-20, penyelenggara berharap ajang ini semakin memperkuat posisi Surabaya dan Jawa Timur sebagai pusat pertumbuhan industri manufaktur di Indonesia sekaligus menjadi penghubung inovasi, investasi, dan kolaborasi lintas sektor.