Media Kampung, Surabaya — Ketenangan hati yang hakiki tidak diukur dari sedikitnya masalah, melainkan dari kedekatan seseorang kepada Allah SWT. Hal ini disampaikan Sekretaris Pimpinan Wilayah Persatuan Islam (PERSIS) Jawa Timur, Ustad Nur Adi Septanto, dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Surabaya, Rabu 15 Juli 2026.
Dalam tausiyah bertajuk “Mereka Bisa Setenang Itu”, Ustad Adi mengupas dua perspektif tentang ketenangan. Pertama, ketenangan positif yang dimiliki seseorang saat hidupnya baik maupun saat menghadapi ujian. Ketenangan ini, menurutnya, muncul karena hati dipenuhi iman dan tawakal kepada Allah.
“Ketenangan yang sejati datang dari Allah SWT. Ketika seseorang memiliki iman dan kepasrahan kepada Allah, maka tidak ada kegelisahan yang menguasai jiwanya. Ia tetap berikhtiar, tetapi hatinya yakin bahwa semua yang Allah tetapkan adalah yang terbaik,” ujar Ustad Adi.
Pernyataan tersebut dikuatkan dengan firman Allah dalam Surah Ar-Rad ayat 28: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan hati adalah karunia Allah bagi hamba-Nya yang senantiasa mengingat dan berserah diri kepada-Nya.
Perspektif kedua yang disoroti Ustad Adi adalah ketenangan semu yang tampak pada pelaku kejahatan dan kezaliman. Menurutnya, kondisi itu bukanlah ketenangan hakiki, melainkan tanda hati yang telah tertutup dari petunjuk Allah. Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 7: “Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka ada penutup. Bagi mereka azab yang besar.”
Ustad Adi juga mengingatkan bahwa ketenangan pelaku kezaliman hanya sementara. Setiap perbuatan zalim akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Jauhilah kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman itu akan menjadi kegelapan-kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari No. 2447 dan Muslim No. 2578)
Mengakhiri tausiyahnya, Ustad Adi mengajak umat Islam untuk memperkuat iman, memperbanyak zikir, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan menumbuhkan sikap tawakal dalam setiap keadaan. “Ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah. Ketenangan adalah ketika hati tetap yakin kepada Allah dalam segala keadaan. Itulah ketenangan yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman,” tutupnya.























Tinggalkan Balasan