Media Kampung, Fenomena unggahan di media sosial seperti “Green flag banget karakter A, jadi pengen punya pacar kayak dia” atau “Standar pacarku jadi tinggi karena karakter B” mungkin terlihat seperti candaan. Namun, di balik itu ada pertanyaan serius: apakah tontonan yang dikonsumsi setiap malam benar-benar bisa mengubah cara seseorang memandang cinta?

Drama Korea saat ini bukan sekadar hiburan. Survei Jakpat yang dilansir GoodStats (2025) menunjukkan 62% responden menonton drama Korea karena tertarik pada karakter, dan 58% karena daya tarik pemeran. Artinya, penonton tidak hanya terikat pada cerita, tetapi juga secara emosional dengan karakter.

Interaksi Parasosial: Ketika Karakter Fiksi Terasa Nyata

Fenomena ikut sedih, senang, atau deg-degan dengan nasib karakter drama disebut interaksi parasosial. Ini adalah hubungan satu arah antara penonton dan karakter media. Meski karakter tidak mengenal penonton, hubungan itu terasa nyata secara emosional. Otak manusia tidak membedakan respons emosional terhadap orang nyata dan karakter fiksi saat menonton cerita.

Semakin sering seseorang mengikuti perjalanan karakter, semakin besar rasa mengenal dan memahami mereka. Kedekatan ini tidak muncul begitu saja, melainkan terbangun melalui rutinitas menonton yang intens.

Kesepian Memperdalam Ikatan dengan Karakter

Studi Putri dan Basaria (2025) dari Universitas Tarumanagara terhadap lebih dari 400 penggemar drakor di Indonesia menemukan bahwa semakin kesepian seseorang, semakin dalam keterikatan emosionalnya dengan karakter drama. Drama Korea menjadi ruang pelarian emosional yang memberikan rasa nyaman dan kedekatan (sense of companionship) ketika kebutuhan emosional belum terpenuhi dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi sebagian penonton, karakter drakor terasa seperti teman yang hadir setiap minggu melalui episode baru.

Dari Layar ke Ekspektasi Cinta

Kedekatan emosional ini tidak berhenti pada rasa nyaman. Penelitian Syafrina, Permatasari, dan Dara (2016) dari Universitas Brawijaya pada lebih dari seratus perempuan muda penggemar drama Korea menemukan hubungan antara intensitas menonton dan keterikatan emosional dengan karakter fiksi. Semakin dalam keterlibatan emosional, semakin tinggi ekspektasi terhadap hubungan romantis di dunia nyata—dalam psikologi disebut romantic beliefs.

Karakter pria dalam drama Korea sering digambarkan tampan, mapan, penuh perhatian, peka, dan selalu hadir di momen tepat. Mereka dibangun untuk memikat penonton, sementara sisi kurang menarik disederhanakan atau dihilangkan. Berbeda dengan pasangan nyata yang tidak memiliki penulis naskah, mereka bisa melakukan kesalahan dan tidak selalu sempurna.

Ketika seseorang terlalu sering terpapar gambaran hubungan ideal, hubungan nyata bisa terasa kurang memuaskan—bukan karena buruk, tetapi karena pembandingnya adalah cerita yang dirancang untuk ideal.

Antara Inspirasi dan Standar Tidak Realistis

Penelitian Putri dan Basaria (2025) juga menunjukkan bahwa keterikatan emosional tidak selalu negatif. Dalam kadar wajar, karakter drama bisa menjadi sumber inspirasi: cara menghadapi konflik dengan tenang, memperlakukan orang dengan empati, atau keberanian memperjuangkan hal penting.

Yang perlu dijaga bukan frekuensi menonton, melainkan bagaimana memaknainya. Drama Korea mungkin tidak mengajarkan hubungan sempurna, tetapi mengingatkan kebutuhan manusiawi: ingin dicintai, dipahami, diterima, dan terhubung. Selama kita sadar bahwa karakter di layar adalah konstruksi cerita, inspirasi yang diberikan bisa positif.

Pada akhirnya, bukan drama Korea yang menentukan cara kita memandang cinta, melainkan bagaimana kita menempatkan cerita tersebut dalam kehidupan nyata. Hubungan sesungguhnya dibangun oleh manusia yang sama-sama tidak sempurna.