Media Kampung, Surabaya — Monumen Bambu Runcing di Jalan Panglima Sudirman, Surabaya, tak hanya menjadi ikon sejarah di siang hari, tetapi juga berubah menjadi ruang publik yang hidup di malam hari. Lampu kuning keemasan yang menyinari lima pilar bambu runcing, dipadu lampu ungu elektrik pada pohon palem di sekitarnya, menciptakan pemandangan yang estetik dan memikat.
Trotoar yang bersih dan lebar di sekitar monumen menjadi tempat favorit bagi warga untuk bersantai. Salah satu kelompok yang kerap memanfaatkan suasana ini adalah komunitas sepeda motor. Mereka menjadikan kawasan tersebut sebagai rest point saat night ride, berjejer rapi di tepi jalan sambil bercengkerama.
Daya Tarik bagi Komunitas Motor
Rian, anggota komunitas motor matic yang ditemui di lokasi, mengungkapkan alasannya memilih Monumen Bambu Runcing sebagai tempat berkumpul. “Kami sering memilih rest point di sini kalau sedang night ride. Selain lokasinya di tengah kota dan mudah diakses, pemandangan Monumen Bambu Runcing kalau malam bagus untuk latar foto. Lampu-lampunya estetik, trotoarnya luas dan bersih, nyaman untuk duduk santai sambil menikmati suasana Surabaya,” ujarnya.
Menurut Rian, berkumpul di area ini juga menjadi sarana mempererat solidaritas antaranggota komunitas dan bersosialisasi dengan kelompok lain yang kebetulan sedang nongkrong di tempat yang sama.
Ruang Publik yang Hidup
Keberadaan Monumen Bambu Runcing sebagai ruang publik yang tertata baik membuktikan bahwa area ramah pejalan kaki mampu menjadi wadah interaksi sosial yang positif. Suasana malam yang eksotis, trotoar yang nyaman, dan akses yang mudah membuat tempat ini terus ramai dikunjungi, terutama oleh anak muda.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana ikon kota tidak hanya berfungsi sebagai monumen sejarah, tetapi juga sebagai titik pertemuan yang memperkuat kehidupan sosial masyarakat perkotaan.























Tinggalkan Balasan