Media Kampung, Fenomena second account atau akun kedua di media sosial semakin marak, terutama di kalangan Generasi Z. Banyak pengguna mengaku lebih nyaman berbagi cerita di akun kedua karena merasa lebih bebas tanpa tekanan untuk tampil sempurna.
Seorang teman menceritakan bahwa ia lebih suka mengunggah cerita di second account daripada akun utamanya. Bukan karena jumlah pengikut yang lebih sedikit, melainkan karena ia merasa lebih aman untuk menjadi dirinya sendiri tanpa khawatir akan penilaian orang lain. Di akun utama, ia selalu mempertimbangkan setiap unggahan, mulai dari foto hingga caption, agar tidak dianggap berlebihan. Sebaliknya, di second account, ia bisa mengunggah foto yang tidak sempurna, mengeluh tentang tugas kuliah, atau sekadar berbagi meme tanpa rasa cemas.
Mengapa Second Account Dibutuhkan?
Fenomena ini sejalan dengan Social Penetration Theory dari Irwin Altman dan Dalmas Taylor (1973), yang menyatakan bahwa keterbukaan diri berkembang ketika seseorang merasa diterima dan tidak khawatir akan penilaian negatif. Second account menjadi ruang yang lebih aman untuk melakukan self-disclosure karena audiensnya lebih terbatas dan terdiri dari orang-orang yang dipercaya.
Penelitian Lathifunnisa, Firdasannah, dan Nurbadriah (2025) juga menunjukkan bahwa banyak pengguna second account memanfaatkannya sebagai ruang untuk mengungkapkan diri karena merasa terbebas dari tekanan penilaian sosial yang sering muncul di akun utama.
Front Stage vs Back Stage di Media Sosial
Perspektif dramaturgi Erving Goffman menjelaskan bahwa kehidupan sosial layaknya pertunjukan. Di front stage, seseorang menampilkan citra yang ingin dilihat orang lain, sementara back stage menjadi ruang pribadi tanpa tekanan peran. Dalam konteks media sosial, akun utama sering menjadi front stage di mana unggahan dipilih dengan hati-hati, sedangkan second account menjadi back stage yang lebih spontan dan personal.
Penelitian etnografi virtual tahun 2026 tentang penggunaan second account di Instagram menemukan bahwa pengguna lebih terbuka dalam mengungkapkan emosi dan pengalaman pribadi di akun kedua, sementara akun utama lebih digunakan untuk membangun citra diri di hadapan audiens yang lebih luas.
Bukan Kepribadian Ganda
Perbedaan ini tidak berarti seseorang memiliki dua kepribadian. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga menampilkan diri secara berbeda sesuai situasi—cara berbicara dengan keluarga berbeda dengan saat berbicara dengan dosen atau rekan kerja. Second account hanyalah cara untuk mengelola identitas di ruang digital, bukan untuk berpura-pura menjadi orang lain, melainkan untuk menentukan kepada siapa dan kapan kita merasa cukup aman untuk membuka diri.
Pada akhirnya, second account bukanlah sesuatu yang sepenuhnya positif atau negatif. Kehadirannya menunjukkan bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan diri. Ada yang nyaman berbagi di akun utama, ada pula yang membutuhkan ruang yang lebih personal. Fenomena ini mengingatkan bahwa media sosial bukan sekadar tempat berbagi momen, tetapi juga ruang yang dipenuhi ekspektasi untuk terlihat baik, produktif, atau selalu bahagia.
Pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah second account adalah tempat menjadi diri sendiri atau topeng baru, melainkan mengapa begitu banyak orang merasa membutuhkan ruang kedua untuk menunjukkan sisi dirinya yang tidak berani mereka tampilkan di ruang pertama. Mungkin, jawabannya terletak pada kebutuhan dasar manusia untuk diterima, dipahami, dan merasa aman saat berkomunikasi—kebutuhan yang tetap tidak berubah meskipun teknologi terus berkembang.























Tinggalkan Balasan