Media Kampung, Sejumlah perusahaan besar yang sebelumnya memangkas ribuan karyawan karena yakin kecerdasan buatan (AI) mampu menggantikan pekerjaan manusia kini kembali membuka lowongan kerja. Ford, Klarna, Salesforce, dan IBM mengakui terlalu bergantung pada AI dan membutuhkan tenaga manusia untuk pekerjaan yang memerlukan kreativitas, pengalaman, dan pengambilan keputusan.

Ford Rekrut 350 Engineer

Produsen otomotif asal Amerika Serikat, Ford, mengubah strateginya setelah menyadari AI belum mampu menghasilkan desain dan menjaga kualitas produk secara otomatis. Perusahaan kini merekrut kembali lebih dari 350 engineer, termasuk mantan karyawan, untuk menemukan penyebab masalah produk, melatih generasi engineer berikutnya, dan menyempurnakan sistem AI. Hasilnya, biaya garansi dan penarikan produk berhasil ditekan.

Klarna Akui Terlalu Agresif

Perusahaan fintech Swedia, Klarna, sebelumnya memangkas sekitar 1.200 karyawan pada 2024, termasuk petugas customer service yang digantikan chatbot AI. Meski chatbot mempercepat waktu respons dari 11 menit menjadi 2 menit, hasilnya dinilai belum memuaskan. CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, mengakui perusahaan terlalu agresif mengadopsi AI. Kini Klarna membuka posisi baru untuk meningkatkan kualitas layanan pelanggan.

Salesforce Terapkan Kolaborasi Manusia-AI

Salesforce memangkas sekitar 4.000 karyawan di divisi layanan pelanggan dan menggantinya dengan agen AI. Namun, perusahaan tidak sepenuhnya meninggalkan tenaga manusia. Salesforce kini menerapkan sistem omni-channel supervisor, di mana AI dan manusia bekerja bersama untuk memberikan layanan yang lebih baik.

IBM Lipatgandakan Rekrutmen Entry Level

IBM sebelumnya memangkas sekitar 2.700 karyawan sebagai bagian dari transformasi AI. Namun pada 2026, perusahaan berencana melipatgandakan perekrutan karyawan entry level hingga tiga kali lipat. Menurut IBM, AI mampu mengerjakan tugas teknis seperti coding dasar, tetapi perusahaan tetap membutuhkan talenta muda yang bisa berkomunikasi dengan klien, memahami kebutuhan bisnis, berkolaborasi dalam tim, dan mengambil keputusan strategis.

Mengapa AI Belum Bisa Sepenuhnya Menggantikan Manusia

Kasus Ford, Klarna, Salesforce, dan IBM menunjukkan bahwa AI memiliki keterbatasan, seperti belum mampu memahami konteks bisnis secara menyeluruh, kesulitan mengambil keputusan kompleks, tidak memiliki empati, dan tetap membutuhkan pengawasan manusia. Banyak perusahaan kini beralih dari menggantikan manusia dengan AI menjadi menggabungkan kemampuan AI dan tenaga manusia. Model kerja kolaboratif ini dinilai lebih realistis dalam menghadapi transformasi digital.