Media Kampung, Bandung — Hampir dua abad setelah gempa dahsyat berkekuatan magnitudo 8,8 mengguncang Sumatera bagian tengah pada 1833, energi tektonik yang memicu bencana serupa kembali menumpuk. Peneliti menemukan dua zona di Sumatera bagian tengah yang kini menyimpan akumulasi tegangan terbesar dan berpotensi memicu gempa berkekuatan mendekati magnitudo 9.

Temuan itu diungkap peneliti dari Institut Teknologi Sumatera (Itera), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam studi yang terbit di jurnal Geodesy and Geodynamics awal Juli 2026. Untuk memetakan kondisi bawah permukaan, tim menganalisis data dari 35 stasiun Global Navigation Satellite System (GNSS) yang merekam deformasi kerak Bumi secara kontinu sepanjang 2018 hingga pertengahan 2021.

“Sumatera Tengah berada di batas lempeng yang sangat aktif,” kata pakar tektonik ITB Irwan Meilano yang juga Wakil Rektor institusi tersebut. “Lempeng Indo-Australia perlahan menyusup ke bawah Lempeng Sunda. Saat kedua lempeng ini saling bergesekan, beberapa bagiannya terkunci. Alih-alih bergeser dengan mulus, bagian tersebut tersangkut sehingga tegangan terus menumpuk selama puluhan hingga ratusan tahun, sebelum akhirnya dilepaskan secara tiba-tiba dalam bentuk gempa bumi,” imbuhnya.

Analisis menunjukkan, penumpukan tegangan paling besar ditemukan di sekitar Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, serta di sejumlah segmen Sesar Sumatera yang membelah Sumatera. Berdasarkan sejarah kegempaan di kawasan itu, peneliti memperkirakan siklus gempa besar terjadi sekitar setiap 200 tahun. “Kami menyimpulkan bahwa gempa besar di wilayah ini cenderung berulang sekitar setiap 200 tahun,” ujar Irwan.