Media Kampung, Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terus mencatatkan tekanan jual yang tinggi dan bertahan di harga dasar reguler Rp50 per saham. Meski sempat mencatatkan laba bersih pertama pada kuartal I-2026, sentimen positif itu tergerus oleh intervensi pemerintah yang ingin memangkas bagi hasil antara mitra dan aplikator ride hailing dari 20 persen menjadi 8 persen. Tekanan jual dari investor asing juga besar akibat pembekuan pasar saham Indonesia oleh MSCI, yang membuat bobot pasar Indonesia tergerus, termasuk GOTO yang masuk indeks global standard MSCI.

Peluang GOTO Masuk Papan Notasi Khusus

Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki 11 faktor yang dapat menyebabkan saham masuk papan notasi khusus. Di antaranya, harga rata-rata saham di pasar reguler kurang dari Rp51 dan likuiditas rendah dengan rata-rata harian nilai kurang dari Rp5 juta dan volume kurang dari 10.000 saham selama tiga bulan terakhir. Namun, aturan ini masih dalam tahap sosialisasi ke pelaku pasar.

Dengan asumsi aturan tersebut, peluang GOTO masuk papan notasi khusus masih rendah. Harga saham GOTO memang sudah di bawah Rp50, tetapi rata-rata volume transaksi harian dalam tiga bulan terakhir masih di atas 2,13 miliar saham, jauh di atas batas 10.000 saham. Rata-rata nilai transaksi harian juga masih sekitar Rp111 miliar, di atas minimal Rp5 juta. Meski demikian, tren volume dan nilai transaksi GOTO terus menurun. Dalam dua hari terakhir (6-7 Juli 2026), volume transaksi berkisar 4,8 juta hingga 9,7 juta saham dengan nilai Rp242 juta hingga Rp489 juta.

Risiko Delisting dari MSCI

Jika harga saham GOTO bertahan di level Rp50 hingga Agustus 2026, saham tersebut berpotensi didepak dari indeks Global Standard MSCI. Hal ini akan meningkatkan tekanan jual dari dana pasif yang mengacu pada indeks tersebut.

Harapan Buyback

Satu-satunya angin segar bagi saham GOTO adalah rencana buyback senilai Rp3,5 triliun yang telah disetujui dalam RUPSLB dan dapat dilakukan hingga 18 Juni 2027. Namun, hingga 8 Juli 2026, belum ada realisasi aksi buyback tersebut. Investor menunggu apakah buyback akan dilakukan sebelum atau sesudah keputusan MSCI pada Agustus.

Prospek Bisnis dan Risiko

Dari sisi bisnis, prospek GOTO kurang menarik karena intervensi pemerintah dalam bagi hasil. Namun, rumor akuisisi atau merger dengan Grab masih menjadi katalis potensial. Jika Grab keluar dari Indonesia atau menjual asetnya ke GOTO, Gojek bisa menjadi pemain tunggal. Namun, skenario ini belum pasti.

Saham GOTO saat ini berada di level terendah dalam kondisi normal. Jika masuk papan notasi khusus, harga bisa turun lebih dalam. Investor harus memahami risiko tekanan jual yang besar, intervensi pemerintah, dan belum adanya dividen. Reward hanya bergantung pada keberhasilan buyback atau munculnya momentum baru.