Media Kampung – Beberapa waktu lalu, di sebuah stasiun kereta, seorang pria paruh baya tampak kebingungan mencari jalur kereta. Ia beberapa kali melihat papan informasi, lalu menoleh ke arah orang-orang di sekitarnya seolah ingin bertanya. Namun, hampir semua orang menghindari kontak mata. Ada yang pura-pura sibuk mengetik, memasang earphone, atau berjalan menjauh. Akhirnya, ia memberanikan diri bertanya kepada saya. Percakapan itu tidak sampai dua menit, tetapi meninggalkan pertanyaan: mengapa sesuatu yang sesederhana menyapa atau bertanya kepada orang asing kini terasa begitu canggung?

Dari Keramahan Menjadi Kewaspadaan

Dulu, menyapa adalah bentuk keramahan yang diajarkan sejak kecil: mengucapkan salam kepada tetangga, tersenyum saat berpapasan, atau mengucapkan terima kasih kepada orang yang membantu. Kini, kebiasaan itu semakin jarang. Bukan karena kita menjadi tidak sopan, melainkan karena kita mulai terbiasa menjaga jarak dengan orang yang tidak dikenal.

Setiap hari kita mendengar berita tentang penipuan, pencopetan, pelecehan, dan berbagai tindak kejahatan yang melibatkan orang asing. Media sosial pun dipenuhi video yang mengingatkan agar tidak mudah percaya kepada siapa pun. Lama-kelamaan, kewaspadaan berubah menjadi kebiasaan. Kita curiga ketika seseorang menawarkan bantuan, dan sapaan sederhana terkadang dianggap memiliki maksud tertentu. Padahal, ada perbedaan antara bersikap waspada dan kehilangan kepercayaan kepada sesama. Ketika rasa curiga menjadi titik awal setiap pertemuan, hubungan sosial perlahan kehilangan ruang untuk tumbuh.

Kota Modern dan Kesepian di Tengah Keramaian

Perubahan cara hidup juga ikut memengaruhi kebiasaan kita. Di kota-kota besar, kehidupan bergerak begitu cepat. Orang berangkat bekerja sejak pagi, pulang ketika hari mulai gelap, lalu menghabiskan sisa waktunya di dalam rumah. Pertemuan dengan orang lain sering kali hanya berlangsung beberapa detik—berpapasan di lift, halte, atau minimarket. Ironisnya, kita berada di tengah keramaian hampir setiap hari, namun semakin banyak orang di sekitar kita, semakin sedikit yang benar-benar kita kenal.

Tidak sedikit penghuni apartemen yang tidak mengetahui nama tetangga di sebelah unitnya. Di kompleks perumahan, warga saling bertemu setiap pagi tetapi hanya bertukar pandang tanpa sapaan. Di transportasi umum, puluhan orang duduk berdampingan sambil menatap layar masing-masing. Ruang publik memang semakin ramai, tetapi ruang untuk membangun kedekatan sosial justru semakin sempit.

Interaksi Digital Menggantikan Pertemuan Nyata

Perubahan ini juga terlihat dari cara kita berkomunikasi. Hari ini kita bisa mengirim pesan kepada teman yang tinggal di kota lain hanya dalam hitungan detik. Kita mengetahui kabar seseorang melalui unggahan media sosial bahkan sebelum bertemu langsung. Namun, kemudahan itu tidak selalu membuat hubungan sosial menjadi lebih hangat. Kadang-kadang kita lebih nyaman memberikan tanda suka pada unggahan seseorang daripada menyapanya ketika bertemu di jalan. Kita mengenal foto profil banyak orang, tetapi tidak mengenali wajah tetangga sendiri.

Teknologi tentu bukan penyebab utamanya. Masalahnya muncul ketika interaksi digital perlahan menggantikan kebiasaan berinteraksi secara langsung. Akibatnya, menyapa orang asing terasa semakin tidak biasa.

Perspektif Pendidikan IPS: Perubahan Sosial yang Tak Terlihat

Fenomena ini sebenarnya sangat dekat dengan kajian Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Dalam IPS, masyarakat dipahami sebagai sesuatu yang terus berubah. Perubahan itu tidak selalu terlihat melalui pembangunan gedung-gedung tinggi atau perkembangan teknologi, melainkan juga hadir melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang perlahan menghilang.

Dulu, anak-anak belajar berkenalan dengan teman baru saat bermain di lapangan, belajar meminta maaf setelah bertengkar, belajar bekerja sama, dan belajar menghargai orang yang lebih tua melalui interaksi sehari-hari. Kini, kesempatan itu semakin berkurang. Interaksi sosial tidak lagi terjadi secara alami seperti dulu. Padahal, kemampuan menyapa, mendengarkan, menghargai orang lain, dan membangun kepercayaan merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat. IPS membantu kita memahami mengapa cara manusia berhubungan satu sama lain dapat berubah seiring perubahan lingkungan, budaya, dan pola hidup.

Makna Sapaan Sederhana

Sering kali kita menganggap sapaan hanyalah basa-basi. Padahal, dari sapaan sederhana itulah kepercayaan sosial mulai tumbuh. Lingkungan yang warganya saling mengenal biasanya lebih cepat menyadari jika ada orang yang membutuhkan bantuan. Tetangga lebih mudah bekerja sama ketika menghadapi masalah bersama. Anak-anak pun tumbuh di tengah lingkungan yang membuat mereka merasa dikenal dan diperhatikan.

Sebaliknya, ketika semua orang memilih menjaga jarak, rasa memiliki terhadap lingkungan juga perlahan memudar. Tidak ada yang benar-benar merasa bertanggung jawab karena semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Mungkin inilah alasan mengapa banyak orang mengatakan bahwa mereka merasa kesepian meskipun hidup di tengah kota yang begitu padat—bukan karena tidak ada orang di sekitar, melainkan karena tidak ada hubungan yang benar-benar terjalin.

Semakin saya memikirkan hal ini, semakin saya merasa bahwa persoalannya bukan terletak pada keberanian untuk menyapa, melainkan pada kebiasaan yang semakin jarang dilakukan. Kebiasaan yang dulu tumbuh secara alami perlahan menghilang karena ruang untuk berinteraksi juga semakin sedikit. Padahal, setiap hubungan sosial selalu dimulai dari hal-hal sederhana: sebuah senyuman, ucapan selamat pagi, pertanyaan ringan kepada seseorang yang tampak kebingungan, atau sekadar menganggukkan kepala ketika berpapasan. Mungkin semua itu tidak akan langsung mengubah dunia. Namun, dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah kepercayaan sosial tumbuh sedikit demi sedikit. Dan mungkin, di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan individual, pelajaran paling penting yang perlu terus dihidupkan melalui Pendidikan IPS bukan hanya tentang bagaimana masyarakat berubah, tetapi juga tentang bagaimana manusia tetap belajar menjadi sesama manusia.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.