Media Kampung – Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mencatat peningkatan signifikan ancaman penipuan digital (scam) di Indonesia. Wakil Menteri Komdigi (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengungkapkan bahwa kerugian akibat scam dan spam mencapai Rp7,5 triliun berdasarkan laporan Global Anti-Scam Alliance.

“Angka scam naik terus. Kemarin total kerugian akibat spam dan scam mencapai Rp7,5 triliun berdasarkan laporan dari Global Anti-Scam Alliance,” kata Nezar dalam keterangan resmi di Jakarta, 3 Juli 2026.

Lansia Jadi Sasaran Utama

Nezar menyoroti bahwa para lansia menjadi kelompok yang paling rentan terhadap serangan scam. Modus penipuan kini semakin canggih dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk meniru suara orang lain, termasuk suara pejabat.

“Para lansia kasihan, banyak sekali yang kena scam dan spam. Scam yang paling bahaya dengan menelepon sebagai orang lain, sekarang makin canggih karena bisa meniru suara orang bahkan meniru suara-suara pejabat pakai AI. Dia ketik teksnya, terus tinggal diputar ulang,” ujarnya.

Pemerintah Dorong Fitur Anti-Scam

Menghadapi ancaman yang terus meningkat, pemerintah mendorong penguatan kolaborasi antara regulator, pelaku industri telekomunikasi, dan penyedia layanan digital. Nezar menegaskan pentingnya implementasi fitur anti-scam di seluruh perusahaan telekomunikasi untuk melindungi konsumen.

“Pemerintah mendorong agar seluruh perusahaan telekomunikasi melindungi para konsumen dengan mengimplementasikan fitur anti-scam, baik dalam bentuk aplikasi atau bentuk lain,” imbuh Nezar.

Langkah ini diharapkan dapat menekan angka penipuan digital yang terus merugikan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.