Media Kampung – Bank Indonesia (BI) menghadapi tantangan berat dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Setelah menaikkan BI-rate menjadi 5,75%, rupiah sempat menguat namun kembali melemah ke level sekitar Rp17.950 per dolar AS. Kenaikan suku bunga dan penguatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia memang berhasil meredam tekanan jangka pendek, tetapi pelemahan rupiah belum berhenti.
Menurut anggota DPR Komisi XI Martin Manurung, persoalan yang lebih mendasar perlu dilihat: apakah kebijakan moneter hanya mengobati gejala, bukan penyebab? Nilai tukar pada akhirnya ditentukan oleh permintaan dan penawaran valuta asing. Ketika kebutuhan dolar tumbuh lebih cepat daripada kemampuan menghasilkan dolar, tekanan terhadap rupiah tak terhindarkan. Kenaikan suku bunga hanya memperlambat pelemahan, tidak mengubah akar masalah struktural.
Struktur ekonomi Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku, barang modal, dan energi dalam jumlah besar. Ekspor bernilai tambah belum mampu mengimbangi kebutuhan devisa yang terus meningkat. Investasi langsung asing (FDI) cenderung melemah sejak kuartal ketiga 2025, sementara sebagian dana domestik mencari peluang di luar negeri. Akibatnya, permintaan dolar jauh melebihi pasokan, menekan rupiah.
Kebijakan moneter juga memiliki konsekuensi. Semakin tinggi imbal hasil instrumen BI, semakin banyak dana terserap ke bank sentral. Bagi perbankan, instrumen tersebut menarik karena imbal hasil kompetitif dengan risiko rendah, sehingga likuiditas menjadi lebih ketat dan insentif menyalurkan kredit produktif berkurang. Dilema ini harus dikelola dengan hati-hati agar kebijakan stabilitas nilai tukar tidak mempersempit ruang pembiayaan sektor riil.
Artinya, Indonesia menghadapi persoalan kapasitas ekonomi menghasilkan devisa secara berkelanjutan. Persoalan struktural seperti ini tidak bisa diselesaikan hanya melalui instrumen moneter. Tantangan hari ini bukan memilih antara stabilitas atau pertumbuhan, melainkan memastikan keduanya berjalan beriringan.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.






















Tinggalkan Balasan